Dompet Dhuafa menyelenggarakan webinar dengan tema Update Covid-19 dan Vaksinsasi Covid-19 Serta Persiapan Pembelajaran Tatap Muka Ditinjau Dari Sisi Kesehatan yang disiarkan live  melalui YouTube DDTV dan Zoom Meeting. (Foto: Tangkap layar)

Nastiti menjelaskan bahwa orang yang diperiksa saat ini adalah 12 juta, sedangkan angka positif rate-nya 1,2 juta. Jadi, kata dia, positif rate-nya masih sangat tinggi.

“Dari data persebaran Covid-19 itu kita lihat usia 0-18 tahun kalo dijumlahkan 12,5%. Jadi, satu dari delapan pasien covid adalah anak-anak karena angkanya adalah 12,5%. Jika dihitung dari 1,95 juta, sudah hampir 250 ribu anak terkena Covid-19 dan meninggal, yang meninggal kontribusinya kecil, 1,2% dari keseluruhan kasus meninggal. Jika kasus meninggalnya ada 53 ribu, maka ada 645 anak usia di bawah 18 tahun yang meninggal karena Covid-19,” ujar Nastiti.

Ia kemudian mengungkapkan bahwa ketika Kementerian Pendidikan mewacanakan pembukaan sekolah tatap muka, IDAI memberikan rekomendasi dan panduan pihak penyelenggara, orang tua, dan evaluator.

Dompet Dhuafa menyelenggarakan webinar dengan tema Update Covid-19 dan Vaksinsasi Covid-19 Serta Persiapan Pembelajaran Tatap Muka Ditinjau Dari Sisi Kesehatan yang disiarkan live  melalui YouTube DDTV dan Zoom Meeting. (Foto: Tangkap layar)

“Ketika rekomendasi ini dibuat, banyak sekali kritikan yang dilontarkan. Rekomendasi ini menjadi sangat relevan ketika saat ini kita melihat tren angka kenaikan Covid-19 jadi bertambah lagi. Sehingga, kita patut menyosialisasikan supaya kita bisa menghentikan laju penyebaran Covid-19 terutama untuk anak-anak,” katanya.

Lebih lanjut, ia menerangkan beberapa syarat sekolah bisa dibuka kembali untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka.

“Pada saat pertengahan 2020, WSO mengemukakan persyaratan untuk dibukanya kembali sekolah, salah satunya adalah terkendalinya transmisi di daerah ketika positivity rate dari pemeriksaan  swab PCR itu sudah rendah, kurang dari 5%. Kemudian, angka kematian menurun, dan sepanjang ini kita jarang sekali mencapai positivity rate kurang dari 5%, selalu positivity rate kita sangat tinggi. Padahal, Indonesia masih sangat rendah jumlah tesnya. Ini masih menjadi masalah,” terang Nastiti.

Jika ada sekolah yang memaksakan tatap muka, Nastiti mengungkapkan dengan terpaksa diberikan rekomendasi agar tiak memperburuk transmisi Covid-19 di sekolah. Pertama, jika pembelajaran tatap muka tetap dimulai, pihak sekolah harus menyiapkan blended learning atau hybrid.

LEAVE A REPLY