Jakarta, ZNews.id – Pasar saham Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Jumat (2312026) waktu setempat. Pelemahan ini membuat indeks-indeks utama Wall Street berpotensi mencatat penurunan mingguan untuk dua pekan berturut-turut, di tengah kombinasi sentimen negatif dari kinerja emiten, ketegangan geopolitik, serta sikap investor yang kian berhati-hati.

Salah satu pemicu utama tekanan pasar adalah anjloknya saham Intel, menyusul proyeksi kinerja yang dinilai mengecewakan pelaku pasar. Di saat bersamaan, aliran dana ke aset aman masih berlanjut, mendorong harga emas menembus rekor tertinggi.

Indeks Utama Wall Street Kompak Turun

Pada pukul 09.48 waktu New York, pergerakan indeks utama Wall Street tercatat sebagai berikut:

  • Dow Jones Industrial Average turun 320,71 poin atau 0,65% ke level 49.063,30
  • S&P 500 melemah 14,68 poin atau 0,21% ke posisi 6.898,78
  • Nasdaq Composite terkoreksi 36,50 poin atau 0,16% ke level 23.399,52

Meski sempat rebound dalam dua sesi sebelumnya setelah aksi jual tajam di awal pekan, ketiga indeks tersebut tetap berada di jalur penurunan mingguan.

Intel Jadi Beban Terbesar Pasar

Tekanan paling signifikan datang dari sektor teknologi, khususnya saham Intel Corp yang terperosok hampir 15% dalam sehari. Penurunan tajam ini terjadi setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar.

Intel mengakui masih menghadapi kesulitan memenuhi permintaan chip server untuk pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Padahal, saham Intel sebelumnya telah melonjak sekitar 50% sejak awal tahun.

Dampaknya, indeks saham semikonduktor ikut melemah 1,6%, menjauh dari level tertinggi yang sempat dicapai pada sesi sebelumnya. Sementara itu, indeks volatilitas Wall Street (VIX) kembali naik, mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor.

Investor Cermati Laporan Keuangan dan Sikap The Fed

Pelaku pasar juga tengah bersikap hati-hati menjelang pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan. Bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%. Namun pernyataan resmi dan komentar Ketua The Fed Jerome Powell akan menjadi perhatian utama.

“Musim laporan keuangan sejauh ini cukup baik, tetapi ada beberapa saham yang memberikan panduan kinerja kurang positif dan langsung dihukum pasar,” ujar Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities.

“Panduan ke depan kini menjadi faktor yang sangat krusial. Investor juga akan tetap berhati-hati karena selain laporan keuangan, mereka menunggu sikap The Fed,” katanya lagi.

Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, pasar masih memperkirakan pemangkasan suku bunga pertama pada Juni tahun ini.

Sentimen Global dan Data Ekonomi Campuran

Di sisi lain, ketegangan geopolitik global turut menggerus minat risiko investor. Aliran dana ke aset aman masih berlanjut, tercermin dari lonjakan harga emas ke rekor tertinggi.

Dari sisi data ekonomi, aktivitas bisnis AS pada Januari tercatat relatif stabil. Peningkatan pesanan baru mampu menahan dampak dari pasar tenaga kerja yang masih lesu, berdasarkan data awal indeks manajer pembelian (PMI) dari S&P Global.

Menanti Laporan Keuangan Saham Raksasa Teknologi

Pekan depan, perhatian investor juga akan tertuju pada laporan keuangan sejumlah saham teknologi besar yang tergabung dalam kelompok “Magnificent Seven”, seperti Apple, Tesla, dan Microsoft. Prospek kinerja mereka dinilai krusial untuk menentukan apakah reli saham teknologi masih berlanjut di tengah valuasi yang sudah tinggi.

Meski indeks utama melemah, pasar saham AS secara umum masih ditopang fundamental ekonomi yang solid. Bahkan, indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 dan Dow Jones Transports sempat mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Kamis lalu.

Pergerakan Saham Lainnya

Di tengah pelemahan pasar, beberapa saham masih mencatatkan penguatan. Nvidia naik sekitar 1,4% setelah laporan menyebutkan otoritas China memberi lampu hijau bagi perusahaan teknologi besar setempat untuk menyiapkan pemesanan chip AI Nvidia.

Sementara itu, saham-saham perusahaan tambang yang tercatat di AS ikut menguat seiring lonjakan harga perak yang mendekati level psikologis 100 USD per ons, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap aset lindung nilai.

LEAVE A REPLY