StethoSoul aplikasi pendeteksi dini penyakit psikosis ciptaan Tim UI. (Foto: Antara)

ZNEWS.ID JAKARTA – Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) FKUI bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) melalui Tokopedia-UI Artificial Intelligence Center of Excellence, beserta PT Bahasa Kita mengembangkan aplikasi pendeteksi dini penyakit psikosis menggunakan analisis semantik dan sintaksis.

Anggota tim peneliti yang juga Ketua Klaster Medical Technology IMERI FKUI, Prasandhya Astagiri Yusuf, mengatakan bahwa kolaborasi akademisi lintas bidang ilmu dan juga pelibatan industri sejak awal inovasi sangat diperlukan untuk mewujudkan hilirisasi inovasi teknologi kedokteran.

“Di sini Medical Technology sangat berperan dalam menjembatani kolaborasi interdisiplin ini,” kata Prasandhya dalam keterangannya dikutip dari Antara, Jumat (25/6/2021).

Ia menjelaskan bahwa aplikasi yang ini diberi nama StethoSoul ini memanfaatkan teknologi speech-to-text dan text classification dengan machine-learning. Menurut Prasandhya, penyakit ini merupakan suatu kondisi di mana seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan. Tanda-tanda yang timbul adalah halusinasi, delusi, bicara yang inkoheren, dan perilaku yang kacau.

Sementara, dr Khamelia menambahkan, seseorang yang memiliki kondisi psikosis merupakan salah satu tanda awal penyakit skizofrenia. Namun, kata dia, kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi ini masih rendah karena banyak orang yang tidak sadar telah memiliki kondisi psikosis tersebut.

Lebih lanjut, Khamelia menjelaskan bahwa sebenarnya kondisi psikosis tersebut membutuhkan intervensi oleh spesialis medis profesional, namun jika kondisi ini dapat dideteksi lebih dini, intervensi tersebut dapat dilakukan lebih awal. Sehingga, pemulihan dari kondisi tersebut dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Pada umumnya, analisis koherensi dalam mendeteksi gejala ini masih dilakukan secara manual dan dianalisis langsung oleh dokter spesialis. Meskipun demikian, seiring dengan berkembangnya teknologi pengolahan bahasa manusia saat ini, ekstraksi fitur linguistik dapat dilakukan untuk mendeteksi gangguan berbicara ini secara otomatis dengan bantuan machine learning.

LEAVE A REPLY