
Nabi Ibrahim meninggalkan mereka dengan perasaan kalut sambil berdoa agar Allah senantiasa melindungi mereka. Demikian Hajar yang terus meyakinkan dirinya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya sendiri. Ia bertahan hidup dari bekal air yang dibawa dari Syam (Palestina).
Lama kelamaan, persediaan bekal habis. Hajar haus, begitupula Ismail kecil yang menangis untuk meminta minum. Hajar pun berusaha mencari sumber mata air dengan berlari dari Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Hasilnya nihil karena tempat tersebut tidak ada penghuni selain mereka berdua.
Tiba-tiba ada yang menyapa Hajar saat ia berada di puncak bukit Marwah. Ia mendengarkan dengan seksama bahwa seseorang akan menolong Hajar dan anaknya.
Ternyata, Allah menurunkan malaikat Jibril untuk membuat sumber mata air yang kelak menjadi buah tangan favorit para jemaah haji. Sambil menangis, Ismail kecil menghentakkan kakinya dan keluarlah air jernih dari tanah yang tandus. Hajar senang sekali hingga bergumam,
“zam, zam, zam,” yang artinya berkumpul.
Itulah asal mula Sai sebagai salah satu tahapan saat haji dan segarnya air zamzam yang dirindukan oleh jemaah haji di seluruh dunia. Allah mencatat kisah Hajar bolak-balik Bukit Shafa dan Marwa dalam surah Al-Baqarah ayat 158:
إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”





























