KEMENANGAN  Lai Ching-te dari Partai Progresif Demokratik (DPP) dalam Pemilu Taiwan yang digelar, Sabtu (13/1) , membuat posisi  status quo  otoritas pulau tersebut dengan China daratan  bakal tetap berlanjut.

Ching Te (64) yang elektabilitasnya dalam poling selalu unggul, meraih 40,2 persen suara, sedangkan penantangnya, kandidat dari partai oposisi, Kuomintang, Hou You-ih dengan 33,5 persen suara dan Ko Wen-je yang didukung Partai Rakyat Taiwan (TPP) 26,5 persen.  

Lai yang saat ini menjabat wapres Taiwan, dalam amanat kemenangannya di TV BS   antara lain menyebutkan, pemenang pemilu sebenarnya adalah rakyat dan demokrasi Taiwan.

Namun terkait kekalahan PPD di  parlemen, menurut dia, harus diterima jajaran partainya sebagai peringatan untuk berbenah diri meningkatkan  kepercayaan publik.

Lai menganggap,  perdamaian di Selat Taiwan harus diciptakan  dengan membuka komunikasi seluas-luasnya terkait hubungan dengan China daratan, namun di pihak lain, tidak membiarkan Taiwan di bawah ancaman dari mana pun.

Selama delapan tahun kekuasaan DPP di bawah presiden Tsai Ing-wen, relasi  Taiwan dan China nyaris nihil, sebaliknya Taiwan berhubungan baik dengan negara-negara Barat termasuk menerima lawatan Ketua DPR AS Nancy Pelocy, pada 2022.

China juga mencap otoritas Taiwan sebagai gerakan sparatis, bahkan memasukkan presiden petahana Tsai Ing-wen, Lai dan Menlu Taiwan Joseph Wu dalam daftar hitam sebagai provokator yang menghasut rakyat untuk memisahkan dri dari China.

Presiden China Xi Jinping dan petinggi-petinggi negara tirai bambu tersebut   di berbagai kesempatan melontarkan niat mereka untuk mempersatukan kembali Taiwan secara damai walau belum pernah diwujudkan, selain berupa ancaman seperti infiltrasi pesawat-pesawat tempurnya ke zona pertahanan Taiwan atau manuver kapal perangnya di Selat Taiwan.

Lai selama kampanye pencalonan dirinya sebagai presiden bersikap lebih lunak pada Beijing, tetap menjaga status quo dan tidak pernah menyebut-nyebut  rencana pemisahan diri dari China.

BACA JUGA  5 Cara Melatih Kepekaan Diri agar Gemar Berbagi

Bagi mayoritas publik Taiwan, menjaga status quo agaknya dianggap opsi paling aman karena mereka bebas berpergian ke mana pun dan juga ekonomi Taiwan bisa dibangun dengan kekuatan sendiri, tidak tergantung pihak mana pun.

Taiwan memisahkan diri dari China daratan setelah kekalahan pengikut kau nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek dari kaum komunis pada 1949, setelah itu.

Taiwan yang didukung Amerika Serikat dan negara-negara Barat tidak pernah sepi dari gertakan atau ancaman China yang bertekad merebutnya kembali.

Entah, sampai kapan, status quo akan dipertahankan oleh rakyat Taiwan dan tetap dibiarkan oleh penguasa China daratan.(AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY