EMPAT penduduk Desa Bumianyar, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur tewas sia-sia disabet clurit lawannya dalam aksi carok yang berlangsung, Jumat malam (12/1).

Sejauh ini, penyebab carok berujung maut itu belum dikatahui secara pasti, masih diinvestigasi oleh Polres Bangkalan, Madura  dibantu aparat Polda Jawa Timur.

Menurut Kapolres Bangkalan, AKBP Isman Jaya, informasi kejadian itu bermula dari tayangan video berdurasi 16 detik yang disebarkan ke sejumlah grup WA memuat bentrokan antara dua kelompok terdiri dari enam orang (12/1).

Dari informasi RSUD setempat, dua dari korban adalah kakak beradik berinisial MTD dan MTJ, penduduk Desa Larangan Timur, Kec. Tanjungbumi, Bangkalan, sedangkan satu korban lainnya (NJR), penduduk desa yang sama, diduga paman kedua korban, dan korban lainnya, HFD dari Desa Bumianyar.

Seorang saksi mata menduga, carok berujung maut itu dipicu oleh perebutan lahan parkir di sekitar lokasi kejadian yakni di Juk Korong yang berlokasi di antara Jalan raya Tanjunabumi dan Pantai Indah, Desa Bumianyar.

Carok dikenal sebagai ritual bagi masyarakat Madura tempo doeloe untuk mengembalikan harga diri yang diinjak-injak atau dilecehkan oleh pihak lain, misalnya akibat isteri diselingkuhi, sengketa tanah atau warisan.

Carok yang dalam bahasa Kawi artinya “duel” atau perkelahian, biasanya dilakukan oleh dua orang, dua kelompok atau keluarga besar yang terlibat sengketa, menggunakan clurit atau senjata tajam seperti arit yang biasa dibawa-bawa orang Madura.

Carok dan clurit bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan di kalangan orang Madura sejak era kolonial Belanda abad ke-18 sebagai lambang kesatria dan juga simbul perlawanan mandor tebu, Sakerah, asal Bangkalan terhadap penjajah.

Masalahnya, di era now,  kekerasan yang menyebabkan korban terluka, apalagi kematian, dengan alasan apapun kecuali karena terdesak merupakan tindakan kriminal yang dijerat pasal-pasal pidana.

BACA JUGA  Hati-hati Bencana Hidrometeorologi, Cuaca Ekstrem Intai Indonesia sampai Februari

Selayaknya aparat penegak hukum tidak hanya menindak para pelaku, tetapi juga melakukan mitigasi dan pencegahan di kalangan masyarakat luas, seperti di permukiman  atau sekolah-sekolah terkait tradisi carok yang notabene adalah tindakan melawan hukum.

LEAVE A REPLY