Ilustrasi puasa. (Foto: Freepik)

Hari arafah dikatakan sebagai hari yang paling utama (afdal al ayyam),  sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ مِنْ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ

Artinya: “Tidak ada hari yang lebih banyak Allah membebaskan dari api neraka  dibanding hari arafah.”

Namun, puasa sunah arafah hanya diperuntukkan untuk muslim selain jemaah haji, sedangkan bagi yang sedang menunaikan ibadah haji tidak disunahkan, walaupun kuat melaksanakannya.  Hal ini disebabkan ittiba’ kepada sunah Nabi.

Pendapat Imam an Nawawi dalam hal ini adalah makruh. Namun, berbeda kasusnya jika para jemaah haji sudah tiba di Arafah pada malam hari, maka tidak dimakruhkan.

Niat puasa Arafah sebagai berikut:

نويتُ صومَ عرفة سُنّةً لله تعالى

“Nawaitu shauma arafata sunnatan lillahi ta’ala.”

Artinya: “Saya niat puasa Arafah karena Allah ta’ala.”

Itulah tadi uraian mengenai puasa-puasa Idul Adha atau puasa sunah yang mengiringi bulan mulia Zulhijah. Adanya momen seperti ini sangat bagus jika digunakan pula untuk mengqada puasa Ramadan. (zakat.or.id)

LEAVE A REPLY