Ilustrasi puasa. (Foto: Freepik)

ZNEWS.ID JAKARTA – Puasa menjelang Idul Adha merupakan suatu yang disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Puasa ini cara untuk mendapatkan keberkahan saat Zulhijah. Apalagi, bulan ini termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Dalam bulan ini terdapat ibadah penyempurna dari rukun Islam, yaitu ibadah haji. Sementara, bagi orang yang tidak melakukan ibadah haji, dianjurkan mengamalkan amalan sunah lainnya seperti menyembelih kurban, sedekah sebanyak-banyaknya, salat, dan berpuasa.

Anjuran untuk memperbanyak amal tercatat dalam beberapa hadis Nabi. Misalnya hadis riwayat Ibnu Abbas dalam Sunan At-Tirmidzi sebagai berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

Artinya: “Rasulullah SAW berkata: Tak ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (saat Zulhijah).” (HR At Tirmidzi)

Para ulama menggunakan hadis ini sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari di awal Zulhijah. Hal ini tampak dalam judul bab dalam kitab Ibnu Majah yang memberi judul Shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari). Selain itu, Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitabnya Fathul Baari  mengatakan:

واستدل به على فضل صيام عشر ذي الحجة لاندراج الصوم في العمل

Artinya: “Hadis ini menjadi dalil keutamaan puasa sepuluh hari di Zulhijah karena puasa termasuk amal saleh.”

Puasa Tujuh Hari di Awal Zulhijah

Sesungguhnya ada tiga hari teristimewa saat Zulhijah, yaitu 8 Zulhijah yang disebut yaumu tarwiyah, 9 Zulhijah yang disebut yaumul arafah dan 10 Zulhijah yang disebut yaumun nahr. Namun, seperti hadis sebelumnya, keistimewaan Zulhijah juga terdapat di tujuh hari di awal.

LEAVE A REPLY