Jakarta, ZNews.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pertanyaan seputar utang puasa kembali mengemuka. Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah apakah boleh membayar utang puasa Ramadan setelah tanggal 15 Sya’ban? Jika boleh, bagaimana tata caranya dan seperti apa niat yang benar menurut tuntunan syariat?

Pertanyaan ini wajar, sebab ibadah puasa merupakan kewajiban yang memiliki aturan jelas. Kesalahan memahami hukumnya dikhawatirkan justru membuat ibadah tidak sah. Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami tata cara membayar utang puasa Ramadan secara benar.

Hukum Membayar Utang Puasa Setelah 15 Sya’ban

Dalam Islam, terdapat larangan melakukan puasa sunah setelah tanggal 15 Sya’ban. Namun, larangan ini tidak berlaku untuk puasa wajib. Artinya, puasa yang bertujuan untuk membayar utang puasa Ramadan tetap diperbolehkan meskipun dilakukan setelah pertengahan bulan Sya’ban.

Dalam mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas umat Islam di Indonesia ditegaskan membayar utang puasa Ramadan setelah tanggal 15 Sya’ban hukumnya boleh dan sah, karena termasuk puasa wajib, bukan puasa sunah.

Apa Itu Puasa Qadha?

Dalam istilah fikih, membayar utang puasa disebut dengan qadha. Secara bahasa, qadha berarti menunaikan atau memutuskan.

Sedangkan secara istilah, qadha berarti mengganti ibadah puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadan karena alasan tertentu. Biasanya karena sakit, bepergian jauh, haid, nifas, atau kondisi lain yang dibenarkan syariat.

Niat Puasa Qadha Ramadan

Hal penting yang harus diperhatikan dalam puasa qadha adalah niat. Pada dasarnya, niat puasa qadha sama dengan niat puasa Ramadan, hanya saja terdapat perbedaan pada lafaz kata.

Kata “ada’” (menunaikan tepat waktu) diganti menjadi “qadha” (mengganti).

Berikut lafaz niat puasa qadha Ramadan yang lengkap dan sempurna:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.”

Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadan esok hari karena Allah Swt.”

Jika lafaz tersebut dirasa terlalu panjang dan sulit dihafalkan, maka boleh menggunakan niat yang lebih ringkas berikut ini:

نَوَيْتُ صَوْمَ قَضَاءِ رَمَضَانَ

Nawaitu shauma qadhā’i Ramadhāna.”

Artinya:
“Aku berniat untuk mengqadha puasa Ramadan.”

Waktu Melafalkan Niat Puasa Qadha

Hal yang perlu digarisbawahi, niat puasa qadha harus dilafalkan pada malam hari, yaitu sejak terbenamnya matahari hingga sebelum terbit fajar. Ketentuan ini sama seperti puasa wajib pada bulan Ramadan.

Sebagaimana dijelaskan dalam berbagai rujukan fikih, termasuk yang dilansir NU Online dalam artikel “Ini Lafal Niat Qadha Puasa”, niat di siang hari tidak sah untuk puasa wajib.

Hal Penting Tata Cara Membayar Utang Puasa Ramadan

  • Agar lebih mudah dipahami, berikut poin-poin penting yang perlu diperhatikan:
  • Puasa qadha termasuk puasa wajib, bukan puasa sunah
  • Boleh dilakukan setelah tanggal 15 Sya’ban
  • Niat harus dilakukan pada malam hari sebelum puasa
  • Lafaz niat boleh panjang atau ringkas, asalkan jelas maksudnya
  • Dilaksanakan seperti puasa Ramadan pada umumnya, dari terbit fajar hingga terbenam matahari

Membayar utang puasa Ramadan merupakan bentuk tanggung jawab seorang hamba terhadap kewajiban yang belum tertunaikan. Dengan memahami tata cara, niat, dan ketentuannya, semoga ibadah puasa qadha yang kita lakukan diterima di sisi Allah SWT.

LEAVE A REPLY