
Semua dinamika ini menimbulkan keseruan tersendiri yang sekaligus menghangatkan hubungan satu sama lain, serta melatih kemampuan berkompromi dalam perbedaan keinginan.
Belum lagi aktivitas fisik selama kegiatan berlangsung. Memasak memerlukan berdiri tegak, mengambil bahan, mencampur, memotong, dan membersihkan setelahnya. Aktivitas ini menjadi cara yang menyenangkan sekaligus relatif aktif.
Bahkan terbukti mengurangi risiko kecacatan, kehilangan kemandirian, dan malnutrisi di kalangan orang dewasa lanjut usia, karena melibatkan banyak keterampilan fisik dan mental yang digunakan secara bersamaan.
Mengingat manfaat memasak untuk kesehatan mental, Lisa Bahar, seorang terapis keluarga dari California, mendorong kliennya untuk melatih fokus dengan mengamati setiap olahan makanan yang akan dimasak.
Mulai dari mengamati bentuk, melihat warna, hingga mencium aromanya. Proses memasak secara bertahap dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan semangat hidup yang lebih besar, ungkap Lisa.
- Menghidangkan
Meja makan adalah panggung untuk mempresentasikan hasil eksperimen di dapur. Ada kemungkinan untuk mengalami kegagalan atau sukses dalam menyajikan makanan yang lezat.
Bila terjadi kegagalan, diharapkan anggota keluarga yang menjadi konsumen tidak langsung mencela, melainkan memberikan masukan dengan bahasa yang menyenangkan untuk perbaikan di acara memasak berikutnya.
Bagi orang yang berpandangan optimistik, kegagalan malah akan membuatnya penasaran untuk mengulang dan mencobanya lagi.
Studi dari Health Education & Behavior menunjukkan bahwa memasak memiliki pengaruh positif pada sosialisasi, harga diri, kualitas hidup, dan pengaruh terhadap orang lain.





























