Ilustrasi Memasak sebagai Terapi Jiwa. (Foto: Freepik)

Dengan memerhatikan nutrisi yang dibutuhkan oleh otak, kita dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan mental melalui pilihan makanan yang tepat.

  • Berbelanja

Setelah menentukan menu dan membuat daftar belanja yang diperlukan, langkah berikutnya adalah berburu bahan makanan di pasar, baik itu swalayan atau pasar tradisional, sesuai pilihan masing-masing.

Dalam aktivitas ini, ada istilah “terapi ritel” yang mengacu pada berbelanja untuk menenangkan diri atau meningkatkan suasana hati. Motivasi dari kegiatan ini adalah keinginan untuk merasa lebih baik dengan memenuhi kebutuhan, seperti berbelanja bahan makanan.

Aktivitas berbelanja ini juga dapat disebut sebagai pembelian kenyamanan, belanja untuk mengurangi stres, atau sebagai bentuk kompensasi.

Terapi ritel dapat menjadi pengalaman yang santai, memberdayakan pada kesempatan tertentu, dan tidak harus selalu berarti kesenangan yang menimbulkan rasa bersalah.

Dengan memanfaatkan aktivitas berbelanja dengan bijaksana, kita dapat merasakan kepuasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menciptakan momen positif dalam hidup tanpa mengalami rasa bersalah.

  • Memasak

Saatnya memulai petualangan tipis-tipis di arena dapur. Bagi pemula, kegiatan memasak bisa menjadi momen mendebarkan karena perpaduan antara rasa ingin mencoba dan kekhawatiran akan kegagalan.

Di dalam dapur, ada berbagai proses persiapan yang melibatkan bahan makanan dan berbagai peralatan untuk mengiris, mencincang, menumbuk, mengaduk, dan sebagainya.

Kemudian ada proses eksperimen dalam mempraktikkan resep pilihan. Jika kebetulan memasak bersama pasangan atau anggota keluarga, dapur kadang menjadi tempat terjadinya perdebatan, mulai dari jenis masakan, cara memasak, hingga selera bumbu yang akan digunakan.

LEAVE A REPLY