
Oleh: Ahmad Zainul Hamdi (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam)
“Manusia yang derajatnya paling dekat dengan derajat kenabian adalah mereka yang berilmu…. Al-Hadis.”
(Dikutip dari al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din)
ZNEWS.ID JAKARTA – Terlalu sering kecerdasan dipertentangan dengan ketaatan, terutama dalam beragama. Dalam kasus kehidupan keberagamaan di Indonesia, sejumlah tokoh muslim bahkan pernah menjadi korban dari stigma ini. Sebut saja nama-nama seperti Gus Dur, Harun Nasution, dan Nurcholis Madjid. Anak muda (sekarang sudah menjadi bapak setengah tua) yang menjadi korban stigma ini adalah Ulil Abshar-Abdalla.
Nama-nama ini tidak hanya distigma sebagai muslim liberal karena penggunaan rasio dalam menalar agama, mereka juga pernah menjadi target fatwa kekerasan oleh kelompok yang merasa dirinya paling taat.
Dalam sejarah pemikiran Islam, banyak tokoh kredibel yang menggunakan kecerdasan dan ketajaman analisis rasionya dalam memahami Islam. Sekalipun demikian, kredibilitas ketaatannya dalam ber-Islaman terakui dari generasi ke generasi hingga ini.
Tak perlu mencari-cari tokoh tersebut ke kelompok Mu’tazilah yang memang dikenal sebagai para rasionalis muslim di bidang teologi.
Bahkan, di kalangan tokoh Ahlusunnah pun, kita bisa menemukan tokoh yang biasa menggunakan rasionya dalam merumuskan pandangan-pandangan keislamannya. Salah satu dari tokoh itu adalah Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab fikih Hanafi.
Imam Abu Hanifah secara umum dikenal sebagai salah satu dari imam mazhab besar yang gemar menggunakan rasionya dalam melakukan istinbath al-hukm (penggalian hukum).
Begitu rasionalnya pandangan-pandangan fikih Imam Abu Hanifah, sampai saya membayangkan, andaikan dia hidup di zaman sekarang, mungkin dia akan dihakimi sebagai liberal dan menerima fatwa seperti beberapa tokoh yang saya sebut di atas.





























