M. Fayadh Al Falih (15), pelajar asal Pamulang, Tangerang Selatan, penerima Beasiswa Yatim Dompet Dhuafa ingin mengharumkan nama keluarga. (Foto: Dompet Dhuafa)

Selama empat tahun berada di Ponpes Daar El Manshur, Jawa Barat, santri setara tingkat 10 SMA itu begitu ingin mengharumkan nama keluarga. Umi, panggilan Fayadh terhadap ibunya, sangat mengutamakan pentingnya pendidikan pesantren bagi keempat anaknya.

“Dari sekeluarga memang tradisinya adalah santri. Dari kakek, umi, abi, dan sekarang anak-anaknya pun semuanya diusahakan untuk masuk pesantren,” terang Fayadh.

Bagi Fayadh, pendidikan pesantren adalah yang paling cocok bagi dirinya. Ia mengaku, yang paling disukainya di sana adalah perihal kebersamaan. Ia senang bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Mereka berkumpul di satu tempat melakukan kegiatan bersama setiap waktu. Merelakan kebersamaannya dengan orang tua, menjadikan Fayadh justru semakin memahami arti kemandirian dan kebersamaan.

“Di pesantren kita bisa langsung meniru guru kita dari banyak sisi. Ya karena kita bertemu dan bersama mereka setiap saat. Jadi lebih dekat dan lebih mudah mengambil ilmu dari guru-guru,” ucapnya, awal Agustus lali, saat ditemui Tim Dompet Dhuafa di Ponpes Daar El Manshur.

Pelajaran mahfudzot menjadi mata pelajaran utama yang Fayadh sukai. Setiap kata dan kalimat mutiara yang terkandung di dalam bagiannya sangat dalam.

Itu jadi moto yang ia pegang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Dari situ pula dirinya kemudian tertarik dengan sastra bahasa Arab.

“Pesan umi, sih, yang penting kamu bisa mandiri, bisa urus dan atur diri sendiri, tidak merepotkan orang lain. Itu sudah cukup buat umi tenang,” kata Fayadh menyampaikan pesan uminya.

LEAVE A REPLY