
Setelah perang, muncullah damai. Damai ini disebut sebagai keseimbangan baru. Tapi, keseimbangan ini terlahir dari luka, dari darah, dan emosi yang terlecut.
Agama lahir dan dipelihara dalam sengkarut dan kecamuk sosial itu. Agama tetap setia datang dan hadir dengan niat mendamai, misi merawat cinta, dan bersiram kasih.
Secara fisik manusia bertarung dan saling melukai. Secara spiritual manusia ditugaskan lewat juluran tali agama untuk saling menjalin kasih dan menggenapkan persaudaraan. Bukan untuk melukai satu sama lain. Politik itu wilayah pergaulan sosial.
Agama berpembawaan membasahi jiwa orang-orang yang terlibat dalam pergaulan itu, agar senantiasa bisa menjaga, bisa merawat dan berjarak dengan dosa dan sejumlah pembusukan sosial.
Ketersambungan generasi tidak saja berlangsung secara fisik-geneologis (zuriat dan nasab). Ketersambungan, juga berkait dengan tapak atau tempat agama baru itu tumbuh.
Para etnolog dan pengkaji sejarah agama, tak bisa melepaskan model adaptasi agama baru selaku pendatang dengan kepercayaan atau agama kuno yang pernah hadir dan berbinar pada sebuah ruang (sebagai pemukim tetap).
Dia tak bisa diputuskan begitu saja. Dia adalah sistem mata rantai dan serangkaian penyesuaian yang saling bersambung dan sahut bersahut. Pun, tak pula terjebak dengan nomenklatur sinkretisme.
Sebab, sinkretisme itu sendiri adalah akibat dari sebab. Tersebab adanya “masa lalu” maka dia harus berbagi “hadir” dengan masa kini (kekinian).
Kekinian adalah hasil kreasi manusia kini akibat penjumlahan dan pengalian konstanta di masa lalu. Masa lalu itu bak sumber air di mata air perdana; terletak di hulu sungai nan senyap, sejuk, sepi, dan terletak agak meninggi. Sehingga, nilai-nilai masa lalu berpembawaan terjun atau mengalir ke hilir.




























