Ilustrasi jemaah haji wukuf di Arafah. (Foto: arabiaweather.com)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di antara keistimewaan (khashaish) yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW adalah ibadah haji. Orang yang melaksanakannya tergolong wafdullah (duta Allah) yang akan “disuguhkan” dengan pertunjukkan tanda-tanda keagungan-Nya, serta merasakan kenikmatan batiniyah yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Sebagaimana dalam hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

وفد الله ثلاثة : الغازي و الحاج و المعتمر (أخرجه النسائ)

“Ada tiga delegasi Allah yaitu orang yang berperang, orang yang melaksanakan ibadah haji, dan orang yang melaksanakan ibadah umrah.” (HR Nasa’i)

Ibadah haji adalah instrument penting dalam menguatkan sendi-sendi keislaman yang teraplikasikan dalam keihsanan kepada Allah dan makhluk-Nya. Ibadah haji juga memiliki karakteristik yang paling sempurna dibandingkan dengan ibadah lainnya yang meliputi ruhiyyah (ibadah ruh), jasadiyah (ibadah fisik), dan Maliyah (ibadah harta). Sehingga, seseorang yang melaksanakan ibadah haji berarti telah menyempurnakan seluruh sendi ke-Islam-annya.

Salah satu komponen penting ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Rukun haji ini memiliki karakteristik khusus yaitu terhimpunnya seluruh jemaah dalam satu lokasi, satu waktu, dan satu jenis pakaian. Di Padang Arafah, seluruh hamba Allah berwukuf dengan memakai satu warna dan satu jenis pakaian yaitu kain ihram berwarna putih.

Tidak ada perbedaan status sosial di Padang Arafah, melainkan kesamaan status sebagai hamba Allah. Tidak terlihat perbedaan suku, melainkan kesamaan akidah dan tauhid. Tidak ada kebanggaan dengan perbedaan warna kulit, melainkan kesamaan dalam lebur kekerdilan diri.

Tidak ada perkataan kotor, perkataan keji, atau ungkapan kesombongan, melainkan kesamaan dalam indahnya munajat permohonan ampunan dan rahmat. Di Padang Arafah, semua manusia dari berbagai bangsa dan suku melebur menjadi satu.

BACA JUGA  Seni Menggandakan Diri

Khittah Ibadah Wukuf

Oleh sebab itu, wukuf di Arafah menjadi simbol shilatul iman (keterhubungan keimanan), shilatul arham (keterhubungan nasab), dan shilatul hadharah (keterhubungan peradaban).

Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah SWT dalam QS Al Hujurat: 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

LEAVE A REPLY