
Program ini mengedepankan kekayaan budaya dan kuliner yang beraneka ragam yang terbentang dari kawasan paling timur hingga ujung barat Indonesia. Dalam merancang program ini, sejumlah UMKM dan pelaku ekonomi kreatif ikut dilibatkan.
Pertemuan pada tingkat Sherpa ini punya arti strategis karena selain dihadiri oleh pejabat senior dan setingkat Wakil Menteri juga bertujuan untuk mendiskusikan topik prioritas Presidensi G20 Indonesia, hingga menyusun deklarasi yang akan diadopsi Pemimpin G20 pada KTT Presidensi G20 Indonesia pada tahun ini.
Karena itu, pengenalan Indonesia melalui program Perjalanan Kuliner Nusantara akan menjadi salah satu merek dagang (trademark) Presidensi G20 Indonesia, yang belum pernah dilakukan oleh negara lain yang memegang Presidensi G20 sebelumnya.
Salah satu kuliner yang menonjol dihadirkan di ajang internasional ini selain kopi, juga terselip roti kompiang khas dari Labuan Bajo. Wisatawan yang berkunjung ke daerah ini kurang lengkap kalau tidak menentengnya.
Kudapan perpaduan terigu dilumuri wijen serta dipanggang hingga kering ini mampu disimpan lama. Yang jelas, camilan ini mengenyangkan, sehingga cocok untuk bekal perjalanan.
Roti yang identik dengan makanan zaman dulu itu memang kerap digunakan nenek moyang saat melakukan perjalanan panjang. Karena penyajiannya dipanggang hingga kering, membuat makanan ini awet untuk disimpan.
Kreativitas
Ajang Sherpa G20 mendorong koki terkemuka asal Indonesia unjuk kebolehan untuk memperkenalkan kuliner asli Indonesia termasuk roti kompiang.
Di tangan ahli, roti kompiang menjadi panganan universal yang cocok di lidah peserta Sherpa G20 yang berasal dari beragam bangsa tentunya sudah akrab dengan sajian internasional.
Adalah Koki Gunawan Popo yang berhasil memopulerkan roti kompiang kepada peserta Sherpa G20 yakni melalui kombinasi dengan es krim.





























