Ilustrasi quarter life crisis. (canva.com)

Erik Erinson memiliki teori mengenai tahap perkembangan manusia, yang mana setiap tahap memiliki tugas dan virtue yang ingin dicapai. Gejala QLC rentan menyerang pada tahap teenager dan young adult (Indonesia memiliki rentang usia golongan remaja hingga 25 tahun).

Dalam tahap teenager, psikososial krisis yang terjadi yaitu identity vs role confusion. Setelah melalui tahap ini, seorang manusia mampu mengenali diri sendiri, termasuk batasan diri dan apa yang menjadi value diri.

Jika tidak, ia akan mengalami role confusion, atau kebingungan akan perannya dalam masyarakat. Jika usianya sudah melewati batas usia teenager dan belum bisa mencapai virtue yang seharusnya, beban tersebut akan dibawa saat ia menghadapi krisis  psikososial di tahap selanjutnya.

Dalam tahap young adult, psikososial krisis yang terjadi yaitu intimacy vs isolation, dengan virtue yang dituju yaitu Love. Dalam tahap ini, manusia mulai memiliki hubungan lebih dengan seseorang dan menjalankan komitmen jangka panjang.

Self-awareness menjadi kunci penting untuk seseorang bisa melewati masa QLC mereka. Dengan merenung dan melihat kembali perjalanan hidup kita di masa lampau, kita dapat menganalisa bagaimana kita menghadapi masalah.

Kita tanyakan kembali ke diri kita masing-masing, value apa yang penting bagi kita. Coba kita review, value mana yang penting bagi kita namun sering kita hiraukan, atau ternyata kita malah kekurangan value tersebut. Berangkat dari situ, kita bisa merangkak ke luar dari episod QLC dalam hidup kita. (baktinusa.id)

LEAVE A REPLY