
Oleh: Adinda Aisya Zukhrufa (Penerima Manfaat Bakti Nusa 9 Surabaya)
ZNEWS.ID JAKARTA – Di usia-usia peralihan setelah lulus kuliah menuju dunia kerja, beberapa di antara kita (termasuk saya) merasa kebingungan. Entah mau dibawa ke mana hidup ini.
Seringkali merasa terjebak pada pola keseharian. Tidak ada motivasi untuk hidup dan merasa cemas setiap saat. Jika kalian merasakan satu atau dua hal di atas, bisa jadi kalian sedang mengalami gejala Quarter Life Crisis (QLC).
Istilah QLC sedang cukup ngetren belakangan ini. QLC menandai suatu episode atau masa hidup seseorang di mana terasa lebih sulit, stressful, tidak stabil, penuh kecemasan atau kebimbangan dalam hidup. Karena QLC merupakan masa hidup, maka ia harus selesai dalam jangka waktu maksimal 11 bulan.
Jika seseorang belum juga keluar dari masa krisisnya, atau lebih lama dari waktu tersebut, mungkin saja ada yang salah terhadap seseorang tersebut. Perlu penanganan tenaga profesional. Gejala QLC dialami semua orang. Apapun jenis masalahnya.
QLC baru diperkenalkan pada awal abad ke-20 yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Anak-anak muda yang tinggal di lingkungan perkotaan atau yang memiliki akses internet cenderung mengalami rasa cemas.
Perasaan ini secara tidak langsung timbul akibat tingginya aktivitas mereka menggunakan sosial media setiap harinya. Ketika mereka melihat kehidupan orang lain melalui postingan sosial media, secara tidak sadar, mereka mulai menjadikan apa yang mereka lihat sebagai standar dan mulai membandingkan diri.
Mereka cenderung membandingkan diri dengan orang-orang terdekat atau yang mereka kenal. Mereka akan menjadikan orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka sebagai role model.



























