Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. (Foto: Shutterstock)

Inilah salah satu contoh wakaf produktif di Indonesia. Masjid bukan hanya sebagai tempat singgah untuk beribadah, tetapi juga menggerakkan orang yang berkunjung untuk belajar tentang sejarah dan akulturasinya. Masyarakat pun betah dan dapat mengenal Demak lebih dekat.

3. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon

Kalau jalan-jalan ke Cirebon mesti coba berkunjung ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Masjid bersejarah dan ikonik ini dibangun pada 1480 oleh Sunan Gunung Djati sebagai pemimpin, lalu Sunan Kalijaga dan Raden Sepat sebagai arsiteknya dan 200 orang pembantunya.

Raden Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar seluas 400 meter persegi. Di bagian mihrab, terdapat bermacam-macam ukiran bunga teratai yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Selain itu, ada tiga buah ubin khusus yang melambangkan 3 ajaran pokok, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak memiliki menara atau kubah. Maka dari itu, atap masjidnya terlihat sederhana,  bentuknya prisma atau limasan seperti atap-atap di rumah Jawa.

Mengutip dari situs resmi Cagar Budaya Kemdikbud, sebelum bernama Sang Cipta Rasa, penduduk setempat menamainya Masjid Pakungwati yang terletak di dalam Komplek Keraton Pakungwati.

Saat ini masjid berlokasi di depan Keraton Kesepuhan, tepatnya di Jalan Keraton Kasepuhan 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Cirebon.

Ada yang menarik dari cerita pembangunan salah satu masjid tertua ini. Konon, pembangunan masjid hanya berlangsung sekitar 1 hari. Pada dini hari di keesokan harinya sudah bisa dipakai untuk salat Subuh.

4. Menara Kudus

Wakaf menara masjid yang satu ini berasal dari Sunan Kudus. Menara ini dijuluki sebagai Masjid Al Aqsa dan Masjid Al Manar yang dibangun dari batu bata merah pada 1549 masehi. Kawasan masjid menjadi wisata religi yang wajib dikunjungi saat datang ke Kudus.

LEAVE A REPLY