
ZNEWS.ID INDRAGIRI HULU – Sudah tujuh tahun Niarti mengabdi sebagai guru di SD Filial Rantau Langsat, Dusun Nunusan. Dusun ini terpisah jauh dari desa induknya, Desa Rantau Langsat, Indragiri Hulu, Riau.
Hanya ada satu jalur menuju ke dusun itu, yaitu jalur sungai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan perahu mesin selama dua sampai lima jam, tergantung kondisi ketinggian air.
Bisa terbayang oleh kita, bagaimana perjuangannya untuk pergi mengajar. Tak banyak orang yang bersedia mengajar di sekolah tersebut.
Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil menjadi alasan utama. Apalagi, di sana juga tak ada listrik yang menerangi dan sinyal telekomunikasi.
Aktivitas mandi, bersuci, mencuci, hingga buang hajat pribadi, dilakukan di tepian sungai. Dan, saat gelap mulai menyelimuti, seketika dusun itu menjelma menjadi kampung mati.
Hebatnya, Niarti rela meninggalkan keluarga dan juga hiruk pikuk sosial media, demi mengabdi untuk negara, meski gajinya tak seberapa.
Gaji perbulan nyaris habis hanya untuk biaya sewa sampan. Untuk dua kali menyeberang saja, sudah tidak ada sisa untuk membeli kebutuhan.
Niarti usianya baru 23 tahun dan hanya lulusan SMK. Tapi, semangatnya mengabdi, ketulusan, dan sikap kedewasaanya patut untuk menjadi teladan. Tak salah jika saat ini ia mendapat beasiswa untuk lanjutkan studi.
SD Filial Rantau Langsat, tempat Niarti bekerja adalah salah satu sekolah yang menjadi program inisiasi dari Sekolah Literasi Dompet Dhuafa Pendidikan.
Program yang bertujuan membantu para guru dan sekolah di pelosok agar memiliki fasilitas dan pembelajaran yang berkualitas. Meskipun, masih banyak para guru dan sekolah-sekolah lainnya di pelosok Indonesia yang masih harus berjuang untuk menjadi tempat pendidikan yang layak dan berkualitas.
Editor: Agus Wahyudi





























