Agustia, Konsultan Relawan (Kawan) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa angkatan 2 Kabupaten Bima tahun 2018-2019, mendedikasikan waktunya untuk berkontribusi di tanah kelahirannya dengan mendirikan wadah komunitas belajar, yakni Sikola Bajalan. (Foto: SLI DD)

ZNEWS.ID WAKATOBI – Setelah melanglangbuana dari Aceh, Bima, Rote Ndao, hingga kembali ke kampung halamannya di Pesisir Wakatobi, Agustia yang akrab disapa Tia, mantap mendedikasikan waktunya untuk berkontribusi di tanah kelahirannya.

Di sana, ia merangkul pemuda dan para pemangku kepentingan daerah untuk bersama-sama memberi dampak nyata dengan mendirikan wadah komunitas belajar, yakni Sikola Bajalan. Komunitas ini menyasar anak-anak di sekitar wilayah tempat tinggalnya.

Sikola Bajalan dibentuk karena adanya keresahan para orang tua dan warga sekolah mengenai banyaknya anak yang berada di Pulau Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi yang belum bisa membaca pascapandemi Covid-19 melanda. Karena itulah, Tia tergerak untuk melakukan sesuatu demi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya agar bisa membaca dan tak ketinggalan pembelajaran.

Berdiri pada 11 Mei 2023, Sikola Bajalan dibentuk dengan tujuan menciptakan ekosistem pendidikan yang melek literasi dan numerasi untuk anak-anak di Kabupaten Wakatobi. Kegiatan Sikola Bajalan berlangsung di dua desa, yaitu Mola Selatan dan Mola Nelayan Bakti. Pembelajaran diadakan setiap Sabtu dan Minggu di teras-teras rumah warga yang ada di perkampungan Bajau, Desa Mola.

Anak-anak yang belajar di Sikola Bajalan bervariasi, mulai dari yang sedang bersekolah namun belum bisa membaca, anak-anak yang putus sekolah, hingga yang tidak pernah merasakan bangku sekolah. Saat ini, terdapat 52 relawan Sikola Bajalan yang mendampingi 40 anak dalam proses belajar.

Agustia, Konsultan Relawan (Kawan) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa angkatan 2 Kabupaten Bima tahun 2018-2019, mendedikasikan waktunya untuk berkontribusi di tanah kelahirannya dengan mendirikan wadah komunitas belajar, yakni Sikola Bajalan. (Foto: SLI DD)

“Harapannya Sikola Bajalan menjadi tempat belajar bagi semua anak di Kabupaten Wakatobi, bukan hanya anak-anak suku Bajau. Selain itu, melalui Sikola Bajalan, diharapkan tercipta budaya positif seperti pembiasaan aktivitas membaca anak dan pengalaman belajar yang menyenangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setiap anak,” kata Tia.

Keberadaan Sikola Bajalan telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat suku Bajau. Setiap pekan, anak-anak sudah mengetahui jadwal belajar bersama Sikola Bajalan. Dari yang awalnya tidak mengenal huruf sama sekali, sekarang mereka sudah mampu mengenali dan menuliskan huruf dengan baik.

BACA JUGA  Pelita Inhil Tingkatkan Budaya Literasi lewat Workshop KLiK dan FRA

Anak-anak yang dulunya belum lancar membaca, kini lancar membaca. Anak yang masih susah dalam menulis dan lupa beberapa huruf, sekarang sudah mampu menulis dan melafalkan huruf dengan lancar. Bahkan, anak-anak yang sebelumnya putus sekolah kini memiliki keinginan untuk kembali bersekolah di sekolah formal.

Kesadaran anak-anak terhadap pentingnya bersekolah semakin tumbuh, begitu pula minat baca mereka. Dalam mendukung perkembangan tersebut, Sikola Bajalan berupaya membuat perpustakaan mini untuk setiap anak yang berkunjung ke lokasi belajar Sikola Bajalan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat minat baca anak-anak dan memberikan akses yang lebih mudah terhadap bahan bacaan.

“Kesempurnaan hidup akan dirasakan ketika kita mampu berempati dan berdaya untuk orang-orang di sekeliling kita,” tutur Tia.

LEAVE A REPLY