Ilustrasi: Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan 173 petani pemberdayaan di bawah komando koperasi Masjid Al Muhtadin (MAM) di Guwa Lor, Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, melakukan panen perdana untuk 200 hektare lahan. (Foto: Dompet Dhuafa)

Oleh: Entang Sastraatmadja (Ketua Harian DPD HKTI Jawa Barat)

ZNEWS.ID JAKARTA – Panen raya padi musim tanam Oktober-Maret 2024 akan berlangsung mulai akhir Maret 2024. Jika prediksi ini benar, berarti seusai Hari Raya Idulfitri, para petani akan disibukkan dengan masa panen padi, yang selama 100 hari mereka garap.

Panen raya merupakan momen yang ditunggu petani. Sebab, bagi petani masa panen merupakan berkah kehidupan yang wajib disyukuri kehadirannya.

Pada zamannya, panen raya merupakan suasana yang senantiasa disambut dengan riang gembira. Panen raya menjadi musim hajatan petani yang disambut dengan rasa bahagia.

Bagi petani, panen raya menjadi saat tepat untuk memberi penghormatan kepada Dewi Sri yang telah “melindungi” petani dalam menjalankan usaha tani, yakni budi daya padi.

Akibatnya wajar, jika di saat panen raya tiba, di beberapa daerah misalnya Jawa Barat ada petani yang melakukan syukuran dengan menanggap Wayang Golek semalam suntuk. Bahkan ada juga yang mengisinya dengan acara Jaipongan.

Semua ini lumrah, karena panen raya dapat dijadikan peluang untuk menyambut kehidupan yang lebih baik dan ceria serta menjanjikan.

Di samping petani beserta keluarganya, panen raya juga memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan para penyuluh pertanian. Umumnya mereka (penyuluh pertanian)  harap-harap cemas.

Apakah kiprah keseharian mereka mampu membuahkan hasil seperti yang telah ditargetkan ? Apakah sebagai guru petani, mereka mampu meraih target yang ditetapkan? Sebut saja, soal produksi dan produktivitas hasil gabah per hektare-nya?

Semua target dan harapan dari program penyuluhan pertanian, mestinya dapat terjawab saat panen raya berlangsung.

BACA JUGA  Mujahid bin Jabar: Mufassir yang Selalu Butuh Bukti

LEAVE A REPLY