Ilustrasi Pentingnya Moderasi Beragama bagi Pelajar Lintas Negara. (Foto: shutterstock)

Mereka diajarkan untuk memahami ajaran agama dengan benar, tidak hanya mengikuti pemahaman secara buta. Hal ini membuat mereka mampu menyaring informasi dan menolak narasi yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Pelajar yang berpikir kritis akan lebih bertanggung jawab dalam berperilaku dan lebih selektif dalam menerima informasi, terutama di era digital yang penuh dengan informasi keliru.

Moderasi beragama bagi pelajar tidak hanya membentuk individu yang religius dan taat, tetapi juga menumbuhkan generasi yang menghormati keragaman dan mendukung perdamaian.

Pendidikan moderasi ini berfungsi sebagai pondasi bagi pelajar untuk menjadi warga dunia yang mampu berkontribusi secara positif. Dengan moderasi beragama, pelajar diharapkan menjadi duta harmoni dan toleransi yang membawa manfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan dunia.

Moderasi Beragama Pelajar Lintas Negara MABIMS

Dalam konteks penguatan moderasi beragama bagi pelajar, sebanyak 40 pelajar dari berbagai negara mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat KSKK Mardasah, Ditjen Pendis, Kementerian Agama RI.

Pelajar level Madrasah/SLTA atau sederajat tersebut berasal dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura mengikuti Workshop Moderasi Beragama Pelajar Lintas Negara MABIMS di Jakarta pada 25-31 Oktober 2024.

Dengan tema “Penguatan Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai Landasan Moderasi Beragama,” acara ini bertujuan mengembangkan pemahaman lintas budaya serta menanamkan nilai-nilai toleransi.

Program ini mencakup diskusi interaktif dan proyek kolaboratif untuk membangun pola pikir moderat. Para peserta diharapkan menjadi agen perdamaian dan harmoni di negara masing-masing.

Kegiatan ini perlu terus dirawat. Sebab, moderasi beragama bagi pelajar di negara-negara Asia sudah selayaknya ditingkatkan seiring dengan kompleksitas sosial dan keberagaman budaya yang ada.

Kawasan Asia terdiri dari berbagai agama, termasuk Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Konghucu dan lainnya, yang kerap kali memicu perbedaan pandangan bahkan konflik.

LEAVE A REPLY