Ilustrasi pemimpin. (Foto: Pexels/Lukas)

Oleh: Dr Sutejo, MHum (Dosen di LLDIKTI VII Jatim pada STKIP PGRI Ponorogo dan Dewan Pakar PW LTNU Jawa Timur)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di tengah kita mencari sosok pemimpin di tahun politik ini, barangkali menarik kita mengulik kembali pesan kepemimpinan yang telah diwariskan para leluhur, salah satunya adalah filosofi kepemimpinan berkarakter Hastabrata.

Hastabrata berasal dari Bahasa Sansekerta. Hasta berarti delapan dan Brata bermakna perilaku atau tindakan pengendalian diri. Hastabrata, karena itu, melambangkan kepemimpinan dalam delapan unsur alam: Bumi, Matahari, api, samudera, langit, angin, Bulan, dan Bintang. Unsur Hastabrata memiliki pesan di tiap karakteristik sebagai seorang pemimpin ideal.

Pemimpin berjiwa Hastabrata hendaknya memiliki transformasi sifat-sifat dewa (Ila) ke delapan unsur alam sendiri. Hal ini sebagaimana terinspirasikan dalam naskah Pustakaraja Purwa.

Pertama, seorang pemimpin itu hendaklah memiliki jiwa Bumi. Bumi adalah tempat kehidupan. Bumilah yang menyediakan kebutuhan dasar makhluk hidup, termasuk manusia yang mulia. Karena itu, filosofi pemimpin berjiwa Bumi adalah mereka yang menjadi tempat kokoh dan senantiasa memberi pada semua makhluk, khususnya bagi anak buah dan yang dipimpinnya.

Dengan kata lain, pemimpin itu adalah mereka yang sudah ponorogo, yang sudah pono (selesai, purna) dengan rogo (tubuh, raga, dan lahiriahnya). Betapa berat seorang pemimpin berjiwa Bumi.

Sebab, sebagaimana Bumi, seorang pemimpin harus mampu memberi dan kokoh, berkorban bagi kehidupan. Diinjak-injak siapa pun dan apa pun. Memberi tanpa pamrih pada masyarakat, berjiwa pengayom dan tentu wajib menjadi tempat pertama yang bisa diandalkan. Manusia pertama yang membuka dadanya bagi orang lain, sebaliknya bukan mereka yang berpikir dengan perutnya sendiri.

Kedua, seorang pemimpin dalam filosofi Hastabrata wajib berjiwa Matahari. Dengan cahaya yang dipancarkan kepada seluruh makhluk di Bumi, matahari mampu melahirkan kehidupan dalam beragam aktivitas. Memberikan energi, memungkinkan makhluk hidup tumbuh dan berkembang. Karena itu, seorang pemimpin dalam konteks jiwa Matahari adalah mereka yang mampu menghidupkan orang lain, bukan mematikannya. Mengapresiasi dan memberikan koreksi.

Dengan bahasa lain, seorang pemimpin itu adalah mereka yang mampu memberikan energi dengan visi, tujuan, dalam tindakan dan keputusannya. Seorang pemimpin karena itu seperti Matahari: memberi secara terus-menerus, hingga tidak menyadari bahwa dia telah berbuat banyak bagi yang lain. Kehadirannya hanya bagi orang lain, bukan sebaliknya minta dilayani dan “disembah” orang lain.

LEAVE A REPLY