Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Tetapi, panitia penyelenggara seringkali juga melanggar “kaidah keamanan” yang tertoleransi. Kabarnya toleransi penonton yang diisyaratkan kepolisian berjumlah 25.000 orang, tetapi realitanya lebih dari “kapasitas” keamanan.

Keempat, menciptakan aturan penyelenggaraan liga sepak bola yang transparan dan akuntabel, pemerintah hadir dengan meengendalikan kemungkinan berbagai akar kekerasan sosial secara makro, dengan tindakan yang “menghukum”, tetapi mendidik atau “menghadiahi”, tetapi tak melenakan.

Setiap pertandingan barangkali penting dipikirkan penghargaan fair play bagi penonton atau pendukung klub, bukan sekadar kepada pemain.

Kelima, pentingnya pembudayaan nilai kesadaran di balik sepak bola. Pemilik klub bersama tokoh masyarakat dan pejabat publik senantiasa mengingatkan bagaimana sepak bola tidak akan berarti jika olah jiwa di balik spiritualitas sepak bola tidak ditumbuhkan dan diteladankan.

Apa yang dipesankan Menag Yaqut Cholil Qoumas dalam Pekan Seni dan Olah Raga Nasional (Pesona) I PTKIN, Agustus lalu, tentu menjadi sebuah contoh yang baik. Seni dan olahraga, kata Gus Yaqut, memiliki hubungan penting dengan nilai-nilai spiritual, termasuk meningkatkan keimanan kepada Tuhan.

Mari belajar keteladanan demikian dari para pemain muslim sepak bola dunia, macam Mohammad Salah, Karim Benzema, Mezut Otzil, Sami Khedira, Frank Ribery, Zlatan Ibrahimovic, dan Shamir Nasri.

Mereka tampak disiplin, memiliki komitmen, bertanggung jawab, berjiwa kolegial, dan memiliki kesadaran bekerja sama yang luar biasa, baik ketika bermain di klub maupun negaranya masing-masing. Dalam bulan puasa, misalnya, mereka tidak meninggalkan puasa dalam bermain.

Akhirnya, mari menjadi masyarakat bola yang pembelajar. Siapa pun kita dalam menikmati sepak bola senantiasa digerakkan oleh kesadaran hakiki tentang keberadaan sebuah seni olahraga yang sesungguhnya juga olah jiwa. Jiwa suci akan menjernihkan jiwa semua orang yang terkait pertandingan sepak bola.

Semoga tragedi kematian 127 orang di Kanjuruhan mejadi yang terakhir. Cermin retak yang dapat menggerakkan dan menyadarkan semua pihak.

Sumber: Antara

LEAVE A REPLY