Seorang suporter Arema FC (Aremania) membawa bunga di depan Stadion Kanjuruhan, Malang, jawa Timur, Minggu (2/10/2022). (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Kekerasan sosial menari-nari dalam ingatan bawah sadar masyarakat tanpa iluminasi penyadaran, mengapung-apung dalam imaji yang nyaris tidak terputus.

Berita positif dan negatif terkait kekerasan sama sekali tidak berimbang. Kekerasan seringkali dieksplorasi telanjang tanpa edukasi pengiring yang memadai. Barangkali informasi demikian bisa menjadi stimulus yang menyelinap di balik bawah sadar masyarakat pendukung bola.

Secara teori, akar kekerasan muncul dalam fenomena identifikasi diri manusia ke dikotomi “keakuan dan kekamuan”, “kekitaan dan kemerekaan”. Indentifikasi ini melahirkan permusuhan, sehingga berujung kekerasan.

Pelaku kekerasan biasanya melakukan tindak kekerasan terhadap korban karena sebagai “sesama” manusia mereka lebih menonjolkan ke-aku-annya dan ke-kita-annya.

Dalam konteks kasus kekerasan yang terjadi di stadion Kanjuruhan yang menimbulkan kematian 127 orang (jumlahnya bisa bertambah), tentu tidak jauh dari logika keakuan dan kekitaan yang demikian. Pendukung Arema FC fanatik berlebihan, sehingga berujung pada tindakan kerusuhan.

Wujud keakuan dan kekitaan demikian seringkali menjelma menjadi “fanatisme buta”, keharusan menang dan ketaksiapan menerima kekalahan. Fatalnya, melupakan hakikat seni dan spiritualitas dari permainan sepak bola.

Dalam sepak bola ada seni permainan yang mendatangkan hiburan dan ketegangan, memancing egoisme dan solidaritas, menumbuhkan harapan dan kesenjangan realitas, serta pencarian identitas dan eksploritas diri. Semuanya seringkali berujung pada paradoks dan ironi.

Butuh Kesadaran

Dalam memaknai realitas sepak bola Tanah Air, mestinya siapa pun kita butuh kesadaran akan eksistensi olahraga dalam konteks yang universal. Baik itu pemain, ofisial, pemilik klub, pemerintah dan pemangku kepentingan terkait lainnya.

Di luar negeri, misalnya, sepak bola telah menjadi ikon bisnis, simbol profesionalitas, dan penanda kerekatan antarbangsa. Mengapa kondisi demikian berkejadian balik di Indonesia?

Begitu mudahnya penonton “terbakar” api emosi serupa daun-daun yang kering ketika jagonya kalah? Akankah ini puncak gunung es dari kehidupan sosial budaya masyarakat yang secara makro terintimidasi oleh filosofi kekerasan?

LEAVE A REPLY