Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Filosofi kekerasan yang ditunggangi oleh berbagai kepentingan ego komunal, pribadi, lokalitas, hingga kepentingan lain, –macam perjudian—, yang kadang lebih kuat mengendalikannya. Sehingga penyimpangan mudah terjadi, seperti wasit yang kurang profesional dan pengaturan skor sebagaimana pernah mengemuka dalam sejarah sepak bola Tanah Air.

Lalu, bagaimana menyentuh kesadaran baru dalam mengembangkan sepak bola kita?

Pertama, perlunya kesadaran pendukung sepak bola untuk memahami bahwa sepak bola itu adalah sebuah seni kehidupan yang mengajarkan beragam nilai kehidupan.

Ajaran tentang kebersamaan, kekuatan fisik, keterampilan, orkestrasi mental, realita seni permainan, dan puncaknnya sebuah ajaran spiritualitas yang sesungguhnya bisa menyadarkan akan pentingnya persatuan berbagai latar dan suku kebudayaan. Bukankah sepak bola itu netral?

Dalam perjalanan sejarah sepak bola dunia, seringkali ia merupakan ajaran spiritualitas. Adagium “Jangan-jangan Tuhan berumah di bola” pernah sangat populer, hingga budayawan macam Romo Sindunata dan Gus Dur pernah melontarkan joke demikian.

Fanatisme parsial pendukung klub sepak bola mesti mulai merefleksikan kembali tentang hakikat otentik dari keberadaan seni spiritualitas sepak bola.

Kedua, perlunya kesadaran pemilik klub membangun profesionalitas sepak bola yang mengedepankan filosofi humanitas di balik seni sepak bola. Sepak bola bukan sekadar soal menang-kalah, tetapi ajaran hidup tentang luasnya matra kebudayaan pembingkainya.

Kesadaran akan nilai kebudayaan yang melekat di balik sepak bola mestinya diorientasikan sebagai nilai tertinggi, sehingga klub, ofisial, serta pemiliknya selalu berkesadaran dan berkeadaban.

Ketiga, pihak keamanan tak tertinggal diharapkan menempuh jalan kemanusiaan dalam mengawal pertandingan sepak bola. Apa yang dilakukan pihak keamanan dengan menyemprotkan gas air mata sesungguhnya dalam aturan FIFA terlarang.

Pendekatan “kekerasan” misalnya, sama sekali jauh dari filosofi sepak bola. Pilihan metode komunikasi dengan senantiasa menyosialisasikan hakikat sepak bola yang berkeadaban barangkali pintu bawah sadar dalam meminimalkan akar kekerasan instingtif.

LEAVE A REPLY