
Pada anak, pemberian ASI eksklusif enam bulan baru mencakup 37 persen, MPASI di usia 18 bulan bahkan belum mencapai 40 persen, sementara cakupan imunisasi dasar lengkap baru menyentuh angka 57,9 persen dan akses air bersih tak sampai 50 persen.
“Anemia masih tinggi yakni 49 persen. Anemia remaja 84 persen, masih tinggi,” jelas Purnawan.
Di sisi lain, dia melihat angka perkawinan anak dan hamil dalam usia muda di bawah usia 18 tahun masih tinggi di 435 kabupaten di Indonesia. Kehamilan pada usia di bawah 20 tahun atau saat psikologis wanita cenderung belum matang. Bisa saja mereka belum memiliki pengetahuan cukup mengenai kehamilan dan sebenarnya masih membutuhkan gizi maksimal hingga usia 21 tahun.
Dalam kesempatan itu, Direktur Promosi Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Riskiyana Sukandhi Putra, mengatakan bahwa pencegahan stunting menjadi prioritas pemerintah dan masyarakat di semua tingkatan baik di pusat maupun daerah.
Upaya ini mencakup edukasi peningkatan kesadaran publik dan perubahan perilaku masyarakat terkait stunting, memperkuat konvergensi melalui koordinasi dan konsolidasi program serta kegiatan dari pusat sampai tingkat desa.
Selain, itu .eningkatkan akses terhadap makanan bergizi, mendorong ketahanan pangan, meningkatkan pemantauan dan evaluasi sebagai dasar memastikan pemberian makanan dan layanan bermutu.
“Kalau bicara masalah stunting, bukan hanya bicara melawan stunting. Tetapi juga bicara bagaimana melawan masa depan yang buruk. Kita akan kehilangan generasi emas manakala kita salah mengambil intervensi dan bonus demografi tidak dapat kita raih,” kata dia.




























