Ilustrasi: Penerima manfaat Sapi Perah Dompet Dhuafa Jatim. (Foto: DD Jatim)

Keempat, memiliki sumber air tawar yang cukup. Kelima, pemilihan pulau disesuaikan dengan kebutuhan regional, misalkan untuk memenuhi kebutuhan Pulau Jawa ditetapkan pulau pemasok bakalannya adalah pulau kecil di sekitar Pulau Jawa dan perbatasan Jawa-Sumatera atau Jawa-Bali.

Penetapan pulau pembiakan juga perlu mempertimbangkan aspek sosio-ekonomi, seperti memiliki jumlah penduduk untuk mengelola pembiakan.

Paling tidak pulau kecil dapat dihuni penduduk yang didatangkan untuk diberdayakan mengelola indukan, sehingga meningkatkan penghasilan. Pulau-pulau kecil yang dipilih juga memiliki iklim investasi yang kondusif sesuai kondisi kebudayaan setempat.

Strategi yang dilakukan setelah penetapan pulau pembiakan adalah membangun infrastruktur, meliputi padang hijauan pakan ternak, embung-embung air tawar, penyediaan sarana berteduh untuk beristirahat ternak meliputi hutan-hutan ataupun kandang terbuka.

Jalur transportasi yang dibutuhkan adalah pelabuhan khusus dan kapal ternak untuk distribusi bakalan ke pulau lain. Sedangkan jalur masuk indukan dilakukan sekali dengan angkutan khusus untuk menjaga pulau dari agen penyakit.

Pada jangka pendek, biaya investasi awal pembangunan infrastruktur mungkin terasa besar, tetapi jika dinilai dari manfaat lain, seperti terbukanya akses pulau kecil sebagai lumbung sapi, meningkatnya serapan tenaga kerja, meningkatnya jumlah pendapatan pemerintah dari pajak serta berkurangnya biaya impor daging, maka keuntungan jangka panjang yang diperoleh negara menjadi lebih besar, terutama karena menghemat devisa negara untuk importasi bakalan dan daging.

Selama 2021 hingga 2022 saja, devisa yang dibutuhkan untuk impor daging sekitar 800 – 900 juta dolar AS. Dengan kata lain, usaha pembiakan memerlukan biaya jangka panjang.

Dari perhitungan analisis usaha pembiakan sapi potong dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan 2021, pola pembiakan skala usaha 1.000 sapi dengan konsep pastura dalam jangka waktu 8 tahun, biaya investasi minimal yang diperlukan sekitar Rp36 triliun, dengan modal kerja Rp16 triliun dan proyeksi biaya produksi selama 8 tahun sekitar Rp78 triliun.

Biaya tersebut meliputi pengadaan induk dan pejantan, pembiakan, sarana produksi peternakan, pembangunan padang penggembalaan, operasional lain dan tenaga kerja. Biaya produksi dapat ditekan melalui penggunaan lahan yang efektif, seperti rotasi penggembalaan, sehingga pengembangbiakan tanaman pakan didukung oleh alam sendiri.

LEAVE A REPLY