Ilustrasi penyandang disabilitas. (Foto: healthline.com)

Film Taare Zameen Par sangat populer di dunia pendidikan dan psikologi karena sangat inspiratif dan berhasil memenangkan banyak penghargaan. Salah satu di antaranya sebagai Best Movie dalam acara Filmfare Awards 2008. Film yang tentu akan menggetarkan jiwa, manakala rasa, jiwa, empati, dan kesadaran kita hadir kala menikmatinya.

Taare Zameen Par adalah kisah tentang seorang yang dianggap “idiot”, keluarganya tidak sadar jika si anak itu tergolong ABK. Sejumlah pemaksaan dilakukan ayah dan sejumlah guru, hal itu membuat kondisi psikologis Ishaan memburuk.

Kehadiran guru Nikumbh yang sabar mendampingi Ishaan belajar membaca dan menulis setiap harinya, menjadi jembatan emas bagi Ishaan. Seiring berjalannya waktu, sang anak pun ternyata memiliki bakat melukis yang luar biasa.

Film pendidikan yang kaya dengan “suara lembut”, menyuarakan tentang pentingnya kepedulian, kesadaran, kesabaran, dan cinta kesederajatan agar penyandang disabilitas bisa menikmati pendidikan. Penyandang disabilitas, harus dimanusiakan selaiknya kodrat kemanusiaan.

Film itu menyajikan narasi dan visualisasi keteladanan sekolah dan guru inklusi, yang memartabatkan seorang penyandang disabilitas. Tentu, sangat penting untuk ditiru dan dipraktikkan di lembaga pendidikan inklusi mutakhir.

Ingat, keberadaan sekolah inklusi di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia wajib ada kehadirannya. Mengapa?

Begitu banyak landasan dan argumentasi pendukung untuk mewujudkan eksistensinya, baik secara filosofis, yuridis, dan empiris, jika kita mau mengulik-ulik keberadaan keragaman kebinekaan kita, peraturan dan perundang-undangan, dan tentu sejarah empiris kepedulian bangsa ini pada penyadang disabilitas.

Minimal, sejak Komitmen Dakar mengenai Pendidikan untuk Semua, 2000 (The Dakar Commitment on Education for All) dan Deklarasi Bandung Tahun 2004 yang berkomitmen pada “Indonesia menuju pendidikan inklusif”.

Untuk itu, bukan saja sekolah inklusi, tetapi bagaimana keluarga dan masyarakat diharapkan mampu dan mau memartabatkan penyandang disabilitas.

Itu semua sesungguhnya adalah menanam benih kehidupan yang berprinsip pada nilai hak asasi manusia yang mendasar dan substansial.

Sumber: Antara

LEAVE A REPLY