
Di sisi lain, tugas guru menjadi lebih berat manakala disabilitas peserta didik itu berupa cacat ganda (fisik dan mental). Cacat ganda sendiri merupakan keadaan seseorang yang menyandang dua jenis kecacatan sekaligus.
Selanjutnya, kultur sekolah inklusi dituntut ramah peserta didik penyandang disabilitas atau ABK. Artinya, sarana prasarana sekolah pun tersedia untuk memfasilitasi mereka.
Jika diperlukan, masing-masing sekolah inklusi memiliki guru khusus yang berlatar belakang pendidikan ABK, minimal pernah mengikuti pelatihan dan pendampingan dalam mendidiknya.
Sekolah inklusi juga wajib memberikan perhatian dan perlakuan khusus pada peserta didik yang memiliki potensi khusus, sehingga mampu mengeksplor bakat atau keunikannya. Kondisi demikian, akan menjadi jalan terindah bagi penyandang disabilitas, sehingga bisa menemukan potensi diri yang terbaik.
Sekolah inklusi penting juga menyediakan guru bayangan (shadow teacher) pada peserta didik penyandang disabilitas. Guru bayangan bertugas menjadi pendamping anak didik penyandang disabilitas, baik di dalam kelas saat pembelajaran maupun di luar kelas.
Dengan peran guru bayangan demikian, pendampingan diharapkan lebih optimal. Sebagai contoh, di SD Immersion Ponorogo, guru bayangan itu disediakan sebagai pendamping dua anak ABK di satu kelas.
Mari Belajar
Taare Zameen Par adalah film edukasi dari India yang dirilis pada 21 Desember 2007. Film yang bercerita tentang kisah seorang penyandang disabilitas (disleksia), yang tidak disadari oleh orang tuanya, termasuk sejumlah guru di sekolahnya.
Film yang ditulis oleh Amole Gupte dan digarap oleh Aamir Khan ini menghadirkan sosok guru pahlawan disabilitas bernama Ram Shankar Nikumbh, yang dengan kesabaran dan kesadaran tinggi (penuh empati dan cinta) mampu mengantarkan lelaki kecil bernama Ishaan Awasthi menjadi bintang terbaik, yang sama sekali tak diperhitungkan oleh orang tua dan sejumlah gurunya.



























