Wahyudin (52), warga Bogor salah satu penerima manfaat Program Bakso Bager Dompet Dhuafa. (Foto: Dompet Dhuafa)

ZNEWS.ID BOGOR – Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, program pemberdayaan dari Dompet Dhuafa terus menjadi harapan bagi mereka yang sedang mencari pekerjaan. Salah satu program unggulannya, Bakso Bager, telah membantu banyak orang untuk bangkit dari kesulitan ekonomi.

Salah satu penerima manfaat dari program ini adalah Wahyudin (52), warga Bogor yang kini menemukan kembali harapan dalam menjalani hidup. Wahyudin adalah seorang kepala keluarga dengan enam anak, di mana satu anaknya telah bekerja sementara lima lainnya masih bersekolah.

Ia pernah memiliki pekerjaan tetap di sektor perhotelan selama enam tahun, tetapi kehilangan pekerjaannya saat pandemi Covid-19 melanda.

Pemutusan hubungan kerja yang terjadi secara besar-besaran membuatnya kehilangan sumber penghasilan utama. Dengan lima anak yang masih bersekolah, ia menghadapi kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Setahun setelah kehilangan pekerjaan, ia terus berusaha mencari pekerjaan tanpa hasil yang pasti. Setelah berbagai upaya, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai buruh di perusahaan furnitur.

Namun, setelah dua tahun bekerja, kontraknya tidak diperpanjang, membuatnya kembali menganggur dan bergantung pada pekerjaan serabutan, seperti menjadi buruh bangunan.

Wahyudin tidak hanya mendapatkan modal usaha dari Dompet Dhuafa, tetapi juga diajarkan berbagai keterampilan, mulai dari pembuatan bakso, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran. (Foto: Dompet Dhuafa)

“Setelah dari situ, saya cuma serabutan. Nunggu ada yang ngasih kerjaan aja baru saya kerjakan. Seringnya, sih, ya, jadi kuli bangunan. Itu biasanya warga-warga sekitar sini saja,” ungkap Wahyudin menceritakan perjalanan hidupnya.

Ketidakpastian ini membuatnya makin cemas, mengingat kebutuhan hidup yang sangat keras serta pendidikan anak-anaknya yang terus berjalan. Setiap malam, ia termenung memikirkan jalan keluar.

Hingga akhirnya, seorang tetangga memberi tahu tentang Program Bakso Bager dari Dompet Dhuafa. Dengan harapan besar, Wahyudin mendaftarkan diri. Ia begitu tertarik untuk mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, ia dinyatakan lolos sebagai penerima manfaat.

“Di saat saya benar-benar sudah kebingungan harus bekerja seperti apa lagi, mau usaha pun juga tidak tahu ilmunya dan tidak punya modal, ada tetangga saya yang kasih info tentang program ini. Alhamdulillah, saya diterima dan dibimbing dari nol,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Program Bakso Bager tidak hanya memberikan modal usaha, tetapi juga pendampingan dan pelatihan selama satu tahun. Para penerima manfaat diajarkan berbagai keterampilan, mulai dari pembuatan bakso, manajemen keuangan, hingga strategi pemasaran.

Selain itu, mereka juga dibentuk dalam kelompok usaha yang beranggotakan enam orang, dengan satu orang sebagai ketua.

Wahyudin dan istrinya kini menjalankan usaha bakso setiap hari, meskipun masih awal, mereka sudah bisa menjual puluhan porsi. (Foto: Dompet Dhuafa)

“Mekanisme kelompok ini membantu dalam pengelolaan kas bersama serta saling memotivasi. Setiap dua minggu sekali, mereka melakukan pertemuan untuk berbagi pengalaman dan menyelesaikan kendala usaha,” jelas Ilham Taufiq Hidayatullah, PIC Program Bakso Bager Dompet Dhuafa.

Selain itu, untuk mempermudah para penerima manfaat yang belum terbiasa dengan usaha, Dompet Dhuafa masih menyuplai bahan baku hingga mereka bisa mandiri dalam pengadaan stok.

Kini, Wahyudin dan istrinya menjalankan usaha bakso setiap hari. Rutinitas mereka dimulai sejak Subuh dengan belanja bahan-bahan di pasar. Setelah menyiapkan dagangan, mereka berangkat ke titik jualan di dekat pos kamling.

Lokasi ini menjadi titik paling strategis di lingkungan tersebut. Pasalnya, semua orang di sana pasti melewatinya saat akan keluar masuk lingkungan di sana. Maksimal waktu Magrib, ia sudah mengemasi dagangannya dan pulang ke rumah.

“Pagi-pagi saya belanja dulu, istri menyiapkan bahan. Setelah anak-anak berangkat sekolah, kami mulai berjualan hingga sore menjelang Magrib,” tuturnya.

Selama satu bulan berjalan, usaha bakso ini mulai memberikan hasil. Meskipun masih dalam tahap awal, Wahyudin sudah merasakan manfaatnya. Dalam sehari, biasanya berhasil terjual puluhan porsi.

Wahyudin dan istrinya kini menjalankan usaha bakso setiap hari, meskipun masih awal, mereka sudah bisa menjual puluhan porsi. (Foto: Dompet Dhuafa)

“Memang belum seberapa, tapi alhamdulillah, sekarang saya punya pemasukan. Bisa kasih anak-anak uang saku, beli buku sekolah, dan memenuhi kebutuhan dapur,” ujarnya penuh syukur.

Program Bakso Bager dirancang sebagai program jangka panjang dengan pembinaan selama satu tahun. Selain modal usaha dan pelatihan, rencana ke depan adalah membentuk mekanisme koperasi agar usaha ini makin kuat.

Saat ini, Program Bakso Bager telah berjalan dengan 30 penerima manfaat dan menargetkan 120 penerima manfaat secara bertahap.

Namun, agar program ini terus berjalan dengan lancar dan benar-benar memberikan dampak yang signifikan bagi para penerima manfaat, Dompet Dhuafa mengharapkan dukungan dari berbagai pihak.

Semakin banyak masyarakat yang mendukung program ini, semakin besar pula kesempatan bagi lebih banyak orang yang membutuhkan untuk bangkit dari keterpurukan.

“Kami berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, baik individu, komunitas, maupun lembaga, agar program ini bisa terus berjalan. Dengan semakin banyaknya dukungan, Dompet Dhuafa akan mampu meningkatkan skema pemberdayaan serta jumlah penerima manfaat. Dengan demikian, lebih banyak lagi keluarga yang bisa merasakan manfaat dari program ini dan akhirnya mencapai kemandirian ekonomi,” ujar perwakilan Dompet Dhuafa.

Harapan besar itu terus tumbuh. Seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat, program ini bukan hanya sekadar membantu individu, tetapi juga mengangkat harkat dan martabat banyak keluarga yang sempat terpuruk.

Dengan tangan-tangan yang saling membantu, Program Bakso Bager bisa menjadi langkah nyata dalam membangun masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang membutuhkan.

Oleh: Riza Muthohar

LEAVE A REPLY