
Kartini menambahkan bahwa di usia remaja dan produktif, kita bisa terus melakukan hal-hal yang produktif. Saat sudah melakukan tugas utama, misalnya bekerja atau menjadi ibu rumah tangga, kita masih bisa mengerjakan tugas yang lain.
“Contohnya, setelah pulang kantor atau selepas melakukan aktivitas utama lainnya, kita masih ada waktu untuk berolahraga. Kalau tubuh tidak bugar, biasanya kita langsung akan merasa kelelahan. Tubuh kita bisa diajak hidup lebih baik dengan cara dilatih,” ujar dia.
Hal serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ghebreyesus mengatakan bahwa kebiasaan menjaga gaya hidup sehat, termasuk olahraga teratur dan diet bergizi, idealnya dimulai sejak masa kanak-kanak.
Menurut pedoman baru yang dikeluarkan oleh (WHO), anak-anak di bawah lima tahun harus menghabiskan lebih sedikit waktu duduk menonton layar atau tertahan di kereta bayi dan kursi, mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan memiliki lebih banyak waktu untuk bermain aktif jika mereka ingin tumbuh sehat.
“Mencapai kesehatan untuk semua berarti melakukan yang terbaik untuk kesehatan sejak awal kehidupan masyarakat,” kata Ghebreyesus dalam keterangannya pada laman WHO.
Anak usia dini dijelaskan Ghebreyesus adalah periode perkembangan emas yang perlu didukung oleh pola gaya hidup keluarga untuk meningkatkan kesehatan.
Aktivitas Fisik
Lalu, bagaimana aturan beraktivitas fisik yang baik? Kartini berujar bahwa aktivitas fisik yang baik memiliki rumus, yaitu selama 30 menit di luar pekerjaan domestik (misalnya mengepel, menyapu, dan mencuci mobil) serta dilakukan secara “baik, benar, terukur, dan teratur” atau BBTT.
“Baik”, artinya melakukan aktivitas sesuai kemampuan tubuh dan bertahap, serta berkesinambungan. “Benar”, artinya melalui tahapan. Sebelum beraktivitas fisik harus melakukan pemanasan untuk menghindari cedera serta setelah selesai langsung melakukan pendinginan.





























