Ilustrasi Aturan Aktivitas Fisik yang Baik. (Foto: Shutterstock)

ZNEWS.ID JAKARTA – Gaya hidup tidak aktif atau sedentary lifestyle bisa meningkatkan semua penyebab kematian, melipatgandakan risiko penyakit berbahaya, hingga depresi dan kecemasan.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 60 hingga 85 persen orang di dunia, baik dari negara maju maupun berkembang, menjalani gaya hidup tidak aktif yang menjadikannya sebagai salah satu masalah kesehatan di tengah masyarakat yang lebih serius. Namun, tidak cukup ditangani.

Hal ini turut dipengaruhi oleh kecanggihan teknologi yang membuat segala hal menjadi lebih praktis. Misalnya, mencuci baju dengan mesin cuci dan mengepel lantai dengan alat yang canggih, sehingga tubuh menjadi semakin sedikit bergerak.

Padahal, orang yang berusia di atas usia 40 tahun sudah pasti akan mengalami degenerasi otot yang membuatnya semakin melemah, kecuali otot-otot tersebut terpelihara melalui olahraga.

Secara kasat mata, ada perbedaan yang nyata antara otot-otot orang yang jarang bergerak dengan otot-otot orang yang rajin bergerak.

Kementerian Kesehatan melalui laman Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) juga menjelaskan bahwa perilaku sedentari perlu dibatasi karena berbagai penelitian memperlihatkan bahwa perilaku ini menjadi risiko munculnya obesitas.

Tidak sampai di situ, kurangnya aktivitas fisik juga meningkatkan faktor risiko penyebab kematian, penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, hingga masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

“Ketika kita sehat dan bugar, maka kita bisa melakukan tugas kita dengan baik,” ujar Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lanjut Usia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg Kartini Rustandi MKes, beberapa waktu lalu.

LEAVE A REPLY