Ilustrasi: Suasana Candi Sulung yang merupakan bagian dari Candi Muara Takus di Provinsi Riau, Kamis (10/9/2020). (Foto: ANTARA/FB Anggoro)

Oleh: Prof Dr Yusmar Yusuf (Budayawan dan Guru Besar Kajian Melayu Universitas Riau)

ZNEWS.ID JAKARTA – Kita yang tumbuh dan besar pada sebidang ruang adalah kelanjutan dari kehidupan sebelumnya di atas ruang yang sama. Kita adalah pelanjut, pelapis, pengganti posisi generasi sebelumnya yang pernah hadir dan menghilang. Pergantian posisi ini disebut regenerasi.

Ada beberapa rumpun masyarakat yang mengalami interupsi berupa “keterhentian” generasi. Disebut sebagai degenerasi. Manusia Semak di Australia, komunitas yang mendiami Kepulauan Andaman. Masih ditemukan dan menjalani kehidupan seperti sediakala.

Kebiasaan dan kecakapan yang serba sediakala, apa adanya, serba terbatas. Penyebabnya? Isolasi atau keterpencilan. Sehingga tak terjadi persentuhan, kontak budaya dengan masyarakat luar.

Satu hal, mereka tetap terhubung dengan masa lalu (hasil konstruksi sosial masyarakat purba). Keterhubungan ini, khususnya keterhubungan spiritual atau agama kuno dari masyarakat kuno generasi pendahulu sebelumnya.

Sistem kepercayaan ini bisa berbungkus tahayul, sistem pengobatan, sistem kepercayaan animisme. Sehingga, agama-agama yang dianut oleh manusia hari ini, tak bisa dilepaskan dengan hubungan sejarah dan relasi ruang yang sama, yang menjadi tempat hadir dan lahirnya kita saat ini.

Setiap negeri yang berpenghuni (kita selalu diyakini oleh para etnolog), pernah dihuni oleh manusia-manusia purba. Pada awalnya manusia itu suci, manusiawi, dan beradab. Keadaan berbalik menjadi biadab, setelah manusia berbuat dosa, ditambah dengan sejumlah pembusukan kondisi awal.

Melalui kaidah ini, peradaban dan sisi manusiawinya manusia tertinggal, seakan terlepas. Perjalanan peradaban, sejatinya tak lebih dari upaya untuk menjahit bolongan kopak yang koyak akibat perbuatan dosa dan penjumlah pembusukan sosial di awal-awal kehidupan. Berharap hasil jahitan itu memulihkan kembali bentuk keadaban dan peradaban.

Peristiwa pemberadaban ini dilakukan secara terus-menerus, berulang-ulang dan diulang-ulang. Sebab, lobang gelap, liang nestapa yang sama tetap menganga di depan langkah perjalanan peradaban itu. Lobang gelap dan nestapa itu dinisbahkan sebagai perbuatan dosa dan penjumlahan pembusukan sosial di awal-awal sejarah.

Bentuk dari pengulangan lobang kelam nestapa itu bisa bermula dari sakit hati, sengketa suku, pertikaian antar suku dan kedatuan, lalu meluas jadi perang saudara bahkan perang dunia.

LEAVE A REPLY