
Oleh: Dr Sutejo MHum (Budayawan, Dosen di STKIP PGRI Ponorogo, Penggagas Sekolah Literasi Gratis, Alumnus S3 Unesa Surabaya)
ZNEWS.ID JAKARTA – Pengalaman memiliki mahasiswa penyandang disabilitas, menyadarkan betapa pendidikan itu harus setara, tidak membedakan. Pendidikan harus memberikan akses kemudahan, empati, dan penuh cinta kepada yang bersangkutan.
Pendidik tidak boleh memandang sebelah mata, jika perlu memberikan perhatian lebih kepada yang kaum disabilitas. Apalagi secara kelembagaan, penting menyediakan akses sarana dan prasarana yang cukup bagi mereka. Minimal berdamai dengan penyandang disabilitas.
Istilah disabilitas sendiri berasal dari bahasa Inggris, disability, yang berarti manusia yang kehilangan kamampuan pada aspek tertentu. Penyebutan penyandang disabilitas ternyata beragam. Ada juga istilah difabel yang juga berasal dari bahasa Inggris, diferent ability atau memiliki kemampuan berbeda.
Di Indonesia, pemerintahan juga menggunakan istilah beragam. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menyebutnya dengan istilah “berkebutuhan khusus”, Kementerian Sosial menggunakan istilah penyandang cacat, dan Kementerian Kesehatan memakai istilah penderita cacat.
Kekhususan dan kecacatan yang dibawa masing-masing penderita pun beragam. Perayaan Hari Disabilitas Internasional (HDI) sendiri jatuh pada tanggal 3 Desember. Apa yang dapat dipikirkan oleh dunia pendidikan pada mereka?
Tema HDI 2022 adalah “Solusi Transformatif untuk Pembangunan Inklusif: Peran Inovasi dalam Mendorong Dunia yang dapat Diakses dan Adil”.
Pesan penting agar ada keadilan dan kemudahan akses bagi penyandang disabilitas, ada sesuatu yang dapat diperankan, dan ada keadilan yang dinikmati secara manusiawi.
Tujuan peringatan HDI adalah bagaimana mempromosikan pemahaman kepada dunia tentang isu-isu disabilitas dan memobilisasi dukungan untuk martabat, hak, dan kesejahteraan para penyandang disabilitas.
Sudahkah dunia pendidikan kita, misalnya, memberikan yang terbaik bagi penyandang disabilitas, sehingga idealisme di atas tercipta?



























