Sejumlah penonton membawa rekannya yang pingsan akibat sesak nafas terkena gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan saat kericuhan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Oleh: Dr Sutejo, MHum (Pencinta Bola, Budayawan, dan Ketua STKIP PGRI Ponorogo)

ZNEWS.ID JAKARTA – Di tengah meroketnya peringkat FIFA sepak bola nasional di tangan Shin Tae Yong (ke-152, 1033,90 poin), publik dikejutkan dengan kekerasan sepak bola Tanah Air yang menewaskan seratusan lebih orang di stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Informasi duka ini terjadi saat Subuh, tanggal 2 Oktober 2022. Ironisnya, duka sepak bola ini terjadi menjelang perayaan Hari Tanpa Kekerasan Internasional.

Pertanyaannya, apa yang salah dari sepak bola kita? Presiden Barca periode 2003-2010 Joan Laporta, ketika hadir di lapangan Atang Sutrisna, Cijantung, lima tahun lalu, pernah berpesan bahwa membangun sepak bola itu adalah membangun kebudayaan.

Hadir ke Indonesia di Hari Ulang Tahun ke-65 Kopassus, Laporta selanjutnya berpesan, “Dalam opini saya, sepak bola bukan hanya cara menendang bola dan mempunyai pemain yang baik dengan talenta yang luar biasa. Sepak bola adalah budaya. Untuk mengembangkannya, kalian harus mengembangkan filosofi.”

Pesan mantan Presiden Barca ini tentu relevan untuk membaca tragedi Kanjuruhan khususnya, umumnya kekerasan pengiring yang sering terjadi di lapangan sepak bola nasional.

Menemukan Akar

Jika sepak bola dipahami berkaitan dengan budaya bangsa, adakah yang salah dalam kebudayaan Indonesia, khususnya pembudayaan sepak bola Tanah Air?

Bukankah budaya masyarakat kita dikenal santun, ramah, toleransif, dan mengedepankan harmoni sosial? Mengapa di dunia sepak bola seakan budaya itu sirna tidak membekas, khususnya bagi pendukungnya?

Bagi saya, menggemari sepak bola, menonton sepak bola luar negeri misalnya, bisa menjadi tempat rekreasi: menemukan seni kolektivitas, melihat potret kehidupan yang utuh.

Di dalamnya ada sejumlah nilai, seperti pentingnya etos, kedisiplinan, kerja keras, kebugaran, kerja sama, seni, dan spiritualitas yang tinggi; tidak saja para pemain, tetapi semua yang terlibat hingga para pemangku kepentingan pendukungnya.

Lalu, mengapa sepak bola kita sering lebih heboh soal kekerasan dibandingkan prestasinya? Sudah lama kekerasan diajarkan secara tidak langsung dalam kehidupan berbangsa.

LEAVE A REPLY