Terlebih, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa Yaman sedang menghadapi krisis kelapan terbesar di dunia dalam beberapa dekade karena kekurangan dana. Lembaga bantuan khawatir pekerjaan mereka sekarang akan dikriminalisasi.
Gerakan Houthi adalah otoritas de facto di Yaman utara. Organisasi kemanusiaan harus mendapatkan izin untuk melaksanakan program bantuan serta bekerja dengan kementerian dan sistem keuangan lokal.
Penunjukan Houthi sebagai gerakan teroris asing dapat memengaruhi akses Yaman ke sistem keuangan dan pengiriman uang dari luar negeri, serta mempersulit impor dan menaikkan harga barang.
“Ini sudah merupakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Jatah makanan telah dikurangi setengahnya untuk jutaan orang dan peringatan kelaparan muncul kembali. Jadi, ini benar-benar masalah hidup dan mati yang sedang kita bicarakan,” kata Dewan Pengungsi Norwegia di Yaman, Riona Judge McCormack.
Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, David Beasley mengatakan kepada Aljazeera pada bulan lalu, konsekuensi AS memberlakukan penunjukan seperti itu akan menghancurkan rakyat Yaman.
“Yaman sudah menjadi negara rapuh. Mereka berada di ambang kelaparan sekarang. Orang tidak mendapatkan cukup makanan. Saya tidak tahu bagaimana menghadapi kelaparan besar-besaran dalam empat atau lima bulan ke depan,” kata Beasley.
PBB mencoba mulai kembali pembicaraan politik untuk mengakhiri perang enam tahun antara Houthi dan koalisi militer pimpinan Arab Saudi-Emirat. Penunjukan tersebut dapat menciptakan hambatan hukum bagi Houthi yang mengontrol ibu kota Yaman, Sanaa.





























