Jakarta, ZNews.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melontarkan kritik keras terhadap langkah Amerika Serikat yang memblokade jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kebijakan tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip hukum internasional yang menjamin kebebasan navigasi di laut global.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menegaskan setiap negara memiliki hak untuk melintasi perairan internasional tanpa hambatan.
“Hak serta kebebasan navigasi internasional, termasuk di Selat Hormuz, harus dihormati oleh semua pihak,” ujar Guterres dalam pernyataannya di markas besar PBB, Selasa (14/4/2026).
Seruan Jaga Perdamaian Global
PBB menilai, penghormatan terhadap kebebasan pelayaran menjadi kunci untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan yang saat ini tengah memanas.
Guterres menyerukan kepada seluruh negara, termasuk AS, untuk menahan diri dan tidak mengambil langkah yang berpotensi memperburuk situasi keamanan global. Menurutnya, pelanggaran terhadap prinsip tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga mengancam perdamaian dunia secara lebih luas.
AS Mulai Blokade untuk Tekan Iran
Langkah kontroversial ini diambil setelah Presiden Donald Trump memerintahkan blokade penuh terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz sejak Senin (13/4/2026).
“Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses memblokade semua kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” kata Trump seperti dikutip The Guardian.
Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan tekanan terhadap Iran agar bersedia menyepakati perjanjian damai dengan Washington.
Negosiasi Gagal, Ketegangan Meningkat
Sebelumnya, AS dan Iran telah menggelar perundingan di Islamabad, Pakistan, guna mengakhiri konflik yang juga melibatkan Israel. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan.
Wakil Presiden AS, JD Vance, menyebut kegagalan itu terjadi karena Iran menolak syarat utama yang diajukan Washington, yakni penghentian program pengembangan senjata nuklir.
“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya mendapatkan senjata nuklir,” ujar Vance, menegaskan posisi pemerintah AS.
Sinyal Lanjutan Diplomasi
Meski negosiasi terakhir menemui jalan buntu, upaya diplomasi disebut belum berakhir. Sumber internal pemerintah Pakistan menyatakan pembicaraan antara kedua negara akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat.
Vance juga mengindikasikan adanya perkembangan baru, dengan mengklaim bahwa Iran mulai menunjukkan sinyal persetujuan terhadap sejumlah syarat yang diajukan AS.
“AS benar-benar sudah mendapatkan persetujuan atas persyaratan yang telah kami tetapkan,” katanya.
Risiko terhadap Stabilitas Global
Blokade di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia karena jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak serta mengganggu rantai pasok global.
Sikap tegas PBB mencerminkan kekhawatiran langkah sepihak seperti blokade dapat mempercepat eskalasi konflik dan memperluas dampaknya ke berbagai sektor, termasuk ekonomi global.
Di tengah situasi yang masih cair, seruan untuk kembali ke jalur diplomasi dan menghormati hukum internasional menjadi pesan utama komunitas global guna mencegah krisis yang lebih besar.





























