Ilustrasi anak perempuan depresi. (Foto: Thinkstock)

Bagi para remaja dan orang tua, psikolog klinis anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, menekankan pentingnya memahami kebutuhan agar kesehatan mentalnya terjaga, apa yang membuat nyaman. Misalnya, dengan membangun komunikasi positif dengan anggota keluarga.

Akses Informasi Kesehatan

Memang tidak mudah memberikan edukasi kesehatan jiwa pada keluarga, khususnya yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Kesadaran mereka tentang kesehatan jiwa memang masih rendah. Namun, bukan berarti mereka tidak mau terbuka menerima edukasi.

Masyarakat desa di Probolinggo, Jawa Timur dan Purwerojo, Jawa Tengah, contohnya. Walau di sana akses listrik terbatas, namun para pemuda setempat terbuka menerima informasi kesehatan jiwa.

Informasi layanan kesehatan yang masih minim memang menjadi kendala, selain keterbatasan dalam hal ekonomi untuk mendapatkan layanan konseling kesehatan jiwa. Bersyukur bagi yang tinggal di Jakarta karena di wilayah ini sudah ada psikolog di setiap puskesmas kecamatan.

Selain di Jakarta, layanan konseling psikolog di puskesmas sebenarnya juga sudah tersedia di beberapa daerah lain seperti Kabupaten Sleman dan Kecamatan Tegalrejo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan puskemas-puskesmas di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kemen PPPA juga sudah menyediakan yakni layanan keluarga preventif dan promotif sebagai tempat pembelajaran untuk meningkatkan peran keluarga dalam pengasuhan berbasis hak anak atau PUSPAGA di 12 provinsi dan 134 kabupaten/kota di Indonesia. Data pada 2020 menunjukkan, sudah ada 69 psikolog dan 291 konselor yang tergabung dalam layanan ini.

Selain itu, ada juga layanan Sejiwa melalui hotline 119, Ext.8 atau daring untuk membantu membangun kesehatan jiwa di dalam keluarga.

Editor: Agus Wahyudi
Sumber: Antara

LEAVE A REPLY