Ilustrasi buta warna. (Foto: SHUTTERSTOCK/Maria Vonotna)

ZNEWS.ID JAKARTA – Melihat warna di seluruh spektrum cahaya adalah proses kompleks yang dimulai dengan kemampuan mata untuk merespons panjang gelombang cahaya yang berbeda.

Cahaya, yang mengandung semua panjang gelombang warna, memasuki mata melalui kornea dan melewati lensa, jaringan seperti jeli di mata (humor vitreous) ke sel sensitif panjang gelombang (kerucut) di bagian belakang mata di area makula retina.

Bahan kimia di sel kerucut memicu reaksi dan mengirimkan informasi panjang gelombang melalui saraf optik ke otak, hingga tergambarlah citra warna di otak kita.

Kelainan pada semua proses di atas menjadikan seseorang keliru dalam menangkap citra warna. Kelainan ini bisa diakibatkan oleh faktor keturunan, pertambahan usia, penyakit tertentu, dan paparan bahan kimia.

Jika mata tidak mengalami kelainan, kamu akan merasakan warna. Namun, jika sel kerucut kekurangan satu atau lebih bahan kimia yang peka terhadap panjang gelombang, maka kamu  tidak akan dapat membedakan warna merah, hijau, atau biru.

Ada beberapa jenis buta warna, antara lain: Buta Warna Merah-Hijau, Buta Warna Biru-Kuning, dan Buta Warna Lengkap/monokromasi, yakni saat seseorang tidak melihat warna sama sekali dan penglihatan tidak begitu jelas.

Jadi, orang yang mengalami buta warna parsial (Merah-Hijau atau Biru-Kuning) sebetulnya melihat dunia berwarna seperti orang normal hanya saja tidak tepat. Dan, orang yang mengalami buta warna total atau lengkap melihat dunia seperti hitam putih dan cenderung tidak jelas.

LEAVE A REPLY