
Oleh: Aditya Nurullahi Purnama (Alumni Bakti Nusa Semarang)
ZNEWS.ID JAKARTA – Ramadan adalah bulan perjuangan. Pada bulan ini, kita dididik untuk belajar berjuang dalam menahan segala wujud kesenangan duniawi. Tidak hanya sekadar menahan makan dan minum, puasa turut mengatur aktivitas sosial kita sehari-hari. Kita dilatih untuk lebih bijak dan berhati-hati dalam bertutur maupun berlaku.
Sungguh, bagi penulis pribadi, hal tersebut adalah hal yang sulit. Begitupun bagi sebagian umat muslim yang lain yang sedang dan akan terus belajar tentang keimanannya. Namun, tantangan-tantangan yang kita hadapi tersebut perlu kiranya kita maknai bukan sebagai kekangan, tetapi sebagai sarana yang Allah anugerahkan bagi kita untuk meningkatkan derajat keimanan kita di hadapan-Nya.
Jika kita sebagai umat muslim tidak mampu bertahan dalam melalui berbagai ujian kesulitan selama Ramadan, maka sulit bagi kita bisa mencicipi manisnya kemenangan pada penghujung Ramadan.
Dalam panorama sejarah umat Islam, Kemenangan dan Ramadan adalah dua hal yang saling bertaut satu sama lain. Tepatnya pada permulaan tahun ke-2 Hijriah, ketika perintah puasa pertama kali diturunkan.
Bertempat di sekitar 155 km arah barat daya Kota Madinah, padang gersang yang dikelilingi gunung-gunung tinggi menjadi saksi perjumpaan dua pasukan yang membawa misi yang haq dan misi yang batil. Bahkan, dalam As Sirah An Nabawiyah dijelaskan bahwa kedua pasukan tersebut terdiri dari pasukan musyrikin Makkah dengan kekuatan tempur sejumlah 1.000 pasukan, berhadapan dengan pasukan muslimin Madinah dengan kekuatan tempur sejumlah 319 pasukan.
Jika kita menggunakan logika manusia yang sederhana, mustahil bagi pasukan muslim kala itu bertahan, apalagi memenangkan pertempuran yang tidak imbang tersebut. Dengan perbandingan 3:1 adalah musykil bagi pasukan kecil mengalahkan pasukan besar. Namun, logika Tuhan nyatanya tidak bekerja seperti itu.
Pertempuran pun berkecamuk. Pekik takbir dan hunus pedang berkelebat meluluhlantakkan barisan kaum musyrikin. Di dalam tendanya, Muhammad tidak hentinya memanjatkan doa hingga akhirnya pertolongan Allah datang dari arah yang tidak disangka-disangka.



























