JAKARTA, ZNEWS.id – Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani kesepakatan ekonomi bertajuk “agreement toward a new golden age Indo-US alliance” yang mencakup perdagangan, investasi, hingga penguatan rantai pasok.
Penandatanganan dilakukan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada 19 Februari 2026 dalam pertemuan bilateral di AS.
Pemerintah menyebut kesepakatan ini murni berfokus pada perdagangan dan investasi, setelah pasal non-ekonomi seperti reaktor nuklir dan isu Laut China Selatan dicabut. Salah satu poin utama adalah pembentukan Council of Trade and Investment, forum permanen untuk membahas isu perdagangan dan investasi agar tidak berkembang menjadi konflik terbuka.
Sehari sebelum penandatanganan, kedua negara juga meneken 11 nota kesepahaman (MoU) senilai sekitar US$38,4 miliar atau setara Rp648,19 triliun. Kerja sama mencakup mineral kritis, energi, pertanian (jagung dan kapas), furnitur, hilirisasi silika untuk semikonduktor, hingga perpanjangan kerja sama Freeport.
Dalam perjanjian tersebut, sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia ke AS diturunkan menjadi 0%, termasuk CPO, kopi, kakao, karet, komponen elektronik, semikonduktor, dan pesawat. Untuk sektor tekstil dan apparel, tarif 0% diberikan melalui skema TRQ yang dinilai berdampak pada sekitar 4 juta pekerja industri padat karya.
Sebagai timbal balik, Indonesia juga memberi tarif 0% bagi sejumlah produk pertanian AS seperti gandum dan kedelai guna menekan biaya bahan baku domestik.
Implementasi lain mencakup rencana pembelian 50 pesawat Boeing, impor gas dan minyak mentah sekitar US$15 miliar per tahun, serta peningkatan investasi Freeport hingga US$20 miliar dalam 20 tahun ke depan.
Pemerintah menilai kesepakatan ini bertujuan memperkuat kemakmuran bersama dengan tetap menjaga kedaulatan ekonomi masing-masing negara.























