Jakarta, ZNews.id – Rencana impor besar-besaran kendaraan niaga (pikap) untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menuai kritik dari pelaku industri komponen otomotif dalam negeri. Di tengah penjualan mobil nasional yang masih melemah sepanjang 2025, keputusan mendatangkan 105.000 unit pikap dari India dinilai berisiko menekan ekosistem industri kecil dan menengah (IKM).

Pengadaan kendaraan tersebut dilakukan oleh BUMN pangan, PT Agrinas Pangan Nusantara, untuk mendukung operasional program desa. Jumlahnya hampir menyamai total penjualan pikap di pasar domestik sepanjang 2025 yang tercatat sekitar 107 ribu unit secara wholesales.

Rincian Impor: Mahindra dan Tata Motors

Dari total 105.000 unit, sebanyak 35.000 unit pikap Scorpio akan dipasok oleh Mahindra. Sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, terdiri atas model Yodha Pick Up dan truk Ultra T.7, masing-masing 35.000 unit.

Volume impor ini dinilai signifikan, terutama saat kapasitas produksi industri otomotif nasional belum termanfaatkan optimal. Utilisasi pabrik kendaraan bermotor saat ini disebut masih berada di kisaran 60–70 persen.

IKM Khawatir Ekosistem Terganggu

Ketua Perkumpulan Industri Kecil Menengah Komponen Otomotif Indonesia (PIKKO) Rosalina Faried menyampaikan kekecewaan pelaku industri atas kebijakan tersebut.

“Tentunya dampak impor kendaraan utuh tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga pada sekitar 6.000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri komponen otomotif. Langkah ini akan menimbulkan disrupsi pada keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional,” ujar Rosalina, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, dampak tidak berhenti pada pabrikan kendaraan, tetapi merambat hingga pemasok komponen, termasuk ribuan IKM yang selama ini menjadi tulang punggung rantai pasok domestik.

Di tengah pasar yang belum pulih, tambahan pasokan dari luar negeri dalam jumlah besar dikhawatirkan makin mempersempit ruang produksi dalam negeri. “Kami khawatir hal tersebut membuat dampak ekonomi tidak bagus terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif,” tuturnya.

Pasar Otomotif Sedang Lesu

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan industri otomotif nasional masih menghadapi tekanan. Sepanjang Januari–Desember 2025, penjualan mobil secara wholesales turun 7,2 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 803.687 unit. Penjualan ritel juga melemah 6,3 persen menjadi 833.692 unit.

Kondisi ini mencerminkan permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih. Dalam situasi seperti ini, pelaku industri berharap ada keberpihakan kebijakan untuk menyerap kapasitas produksi yang tersedia di dalam negeri.

Usulan Pembatasan Impor

PIKKO memahami kebutuhan kendaraan operasional desa yang dinilai mendesak. Namun, asosiasi menilai pengadaan seharusnya tidak sepenuhnya bergantung pada produk impor, mengingat industri otomotif nasional dinilai memiliki kemampuan teknis dan kapasitas produksi yang memadai.

Pelaku industri mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, untuk melakukan intervensi kebijakan. Salah satu usulan yang diajukan adalah membatasi impor maksimal 50 persen dari total kebutuhan, sehingga separuhnya dapat dipenuhi produsen dalam negeri.

Selain itu, produsen kendaraan nasional diharapkan diberi ruang untuk menjadi pemasok program Kopdes Merah Putih. Skema ini diyakini dapat menjaga kesinambungan industri sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Jika pelibatan industri lokal dilakukan, manfaat yang bisa diperoleh antara lain peningkatan kemandirian industri, perluasan lapangan kerja, optimalisasi penerimaan pajak, hingga pengurangan ketergantungan pada impor.

Rosalina menambahkan, sejumlah anggota PIKKO bersama IKM di Tegal telah berpengalaman menjadi pemasok bagi pabrikan otomotif domestik, termasuk dalam program Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes). Dengan rekam jejak tersebut, industri komponen dalam negeri dinilai siap mendukung kebutuhan kendaraan operasional desa.

LEAVE A REPLY