Kelompok Orkestra G20 menampilkan pagelaran musik orkestra G20 di Taman Aksobya, kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Senin (12/9/2022). (Foto: ANTARA/Anis Efizudin)

Demikian pula dengan Argentina yang juga mengirimkan musisinya. Negara itu berhasil meyakinkan pemain flute Santiago Clemenz untuk datang ke Indonesia dan berpartisipasi dalam Orkestra G20.

Walaupun sudah menjadi pemain principal, Clemenz tetap berkeliling menjadi solois di berbagai orkes lainnya. Di Indonesia, ia akan tampil solo dalam karya The Voyage to Marege.

Selanjutnya, menurut Ananda, dengan G20 Orchestra, Indonesia telah membuka babak baru untuk pertemuan para menteri kebudayaan G20, di mana sekitar 40 pemusik muda dunia bergabung dengan 30 musisi Indonesia untuk bersama mempersembahkan permainan musik klasik kepada dunia di Candi Borobudur, yang juga adalah warisan budaya dunia.

“Mereka bermusik bersama, saling mendalami budaya negara lain … mereka saling bertukar pikiran tentang masa depan musik, mulai dari masalah ketenagakerjaan di dunia musik, komunikasi dan relevansi musik dengan penonton dan masyarakat luas hingga isu keberagaman dan inklusi,” ucapnya.

Semua itu merupakan isu lintas generasi, lintas pandangan politik, latar belakang budaya, gender, ras dan bangsa. Hal itu membuktikan bahwa musik yang adalah bahasa universal dapat menjadi media pemersatu.

Warisan untuk Dunia

Ananda mengatakan bahwa Orkestra G20 ini juga akan menunjukkan peranan sekaligus menjadi warisan Indonesia untuk sejarah musik klasik dunia.

G20 Orchestra adalah warisan Indonesia untuk G20 ke depannya, dan bisa menjadi disrupsi di dunia musik klasik di mana programnya tidak terpaku pada karya ‘yang itu-itu saja’, tetapi ada kesegaran dalam kandungan programnya yang melibatkan berbagai isu.

LEAVE A REPLY