
Jumlah orang tua per kelas ada 3 sampai 5 orang tua yang menjadi guru. Walaupun kebanyakan orang tua kurang memiliki bekal kompetensi sebagai seorang guru, ternyata mereka bisa mengikuti ODWT dengan baik.
Tentu saja hal ini menjadikan mereka memahami pola pembelajaran SD Pengembangan Insani yang menerapkan Kurikulum Adab Qur’ani. Apalagi, RPP yang diajarkan oleh mereka sudah disiapkan sebelumnya oleh guru sekolah.
Dalam Kurikulum Adab Qur’ani, setiap pembelajaran yang dilakukan merupakan penerapan dari surah-surah dalam Al-Qur’an, khususnya juz 30, 29 dan 1, yang sudah dirancang sedemikian rupa. Selain itu juga diajarkan hafalan-hafalannya dari surat yang diajarkan tersebut.
Isi kandungan surah harus diajarkan dan diintegrasikan dengan pembelajaran literasi dan numerasi. Sehingga, apa yang diajarkan mengandung nilai-nilai Qur’ani.
Dalam sesi evaluasi ODWT, orang tua menyampaikan bahwa mereka sangat merasakan menjadi guru di kelas 1 SD, pembelajaran sangat ramai dan sulit untuk mengondisikan anak-anak, yang mungkin berbeda mengajar siswa tingkat menengah.
Namun, justru hal tersebut yang membuat para orang tua terkesan pada acara ODWT kali ini.
Evi Saftri, orang tua Ananda Bila, yang juga Ketua Paguyuban Orang Tua, mengaku sangat terkesan diberi kesempatan menjadi guru. Ia berharap ada kegiatan lain yang melibatkan orang tua.
Acara ODWT ditutup dengan makan siang bersama seluruh siswa, orang tua, dan guru SD Pengembangan Insani dan persembahan apresiasi dari paguyuban orang tua siswa kepada para guru. (LPI DD/DNS)





























