
Momen berharga kehadiran delegasi Grand Syekh Al-Azhar dimanfaatkan oleh Kementerian Agama untuk meresmikan peluncuran pembangunan Markaz Tathwir Ta’lim At-Thullab Al-Wafidin Wa Al-Ajanib atau Pusat Pengembangan Pendidikan Mahasiswa Asing Al-Azhar Cabang Indonesia.
Prosesi peresmian dilakukan oleh Direktur Markaz Tathwir Universitas Al-Azhar Prof Dr Nahla Sabry El-Seidy bersama Wakil Menteri Agama RI Saiful Rahmat Dasuki di Auditorium HM Rasjidi Gedung Kementerian Agama Jalan MH Thamrin No 6 Jakarta.
Sementara itu, dalam sesi pertemuan Grand Syekh Al-Azhar dengan pimpinan Badan Amil Zakat Nasional Prof Dr Noor Achmad dan jajarannya, Baznas menyerahkan infak kemanusiaan senilai USD 2 juta atau sekitar Rp32 miliar untuk rakyat Palestina melalui Bayt Zakat wa As-Shadaqat, lembaga sosial di bawah naungan Grand Syekh Al-Azhar.
Syekh Ahmed Al-Tayeb mengapresiasi komitmen Baznas selama ini yang mengirim bantuan untuk bangsa Palestina. Grand Syekh Al-Azhar juga menghadiri sesi pertemuan dengan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof Dr Kamaruddin Amin yang didampingi beberapa pengurus BWI.
Hari terakhir lawatannya di Indonesia, Grand Syekh Al-Azhar bersilaturahmi dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir dan jajaran PP Muhammadiyah. Pertemuan yang akrab berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No 62 Jakarta Pusat.
Mesir mengisi tempat khusus dalam lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, khususnya di bidang diplomasi sebagai ujung tombak perjuangan.
Dalam risalah Sekitar Perjanjian Persahabatan Indonesia – Mesir Tahun 1947, dimuat dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (1984), mantan Menteri Muda Penerangan AR Baswedan menulis catatan sejarah sebagai berikut:
“Matahari musim semi menyambut kami ketika melandas di lapangan terbang Kairo 10 April 1947. Airport terasa sibuk. Kami berempat, Haji Agus Salim, Dr Mr Nazir St Pamuncak, Rasjidi (sekarang Prof Dr H Rasjidi) dan saya, turun. Dengan menjinjing aktentas sederhana yang kuncinya sering macet dan berbekal secarik kertas kumal keluaran Kementerian Luar Negeri dengan tulisan “Surat Keterangan Dianggap Sebagai Paspor”, kami meninggalkan pesawat menuju ruang imigrasi. Berdesak di antara sekian banyak penumpang yang berpakaian rapi, saya cuma mengenakan pakaian biasa – itu seragam perjuangan yang terkenal, setelan kain khakik dan sepatu sandal lusuh. Pegawai imigrasi, tinggi besar dengan kumis melintang mengamati ‘paspor’ kami. Roman mukanya agak berkerinyut, dan Haji Agus Salim cepat memberi keterangan bahwa kami adalah anggota delegasi Mission Diplomatique dari Indonesia, sebuah negara baru di Asia, begitu kata beliau. Petugas itu mengangkat bahu, rupanya ia tak pernah belajar ilmu bumi tentang Indonesia.”
Baswedan melanjutkan catatan pengalamannya, “Are you Moslem? mendadak dia bertanya, ‘Yes!’ jawab kami serentak. Jawaban yang spontan seperti pada paduan suara, sehingga kami berempat saling berpandangan sampil tertawa. Petugas itu mungkin telah melihat nama-nama yang tertera di surat itu bernafaskan Islam. ‘Well, then, Ahlan Wa Sahlan. Welcome!” ucapnya. Tanpa banyak cingcong, tanpa melihat surat-surat lagi atau periksa memeriksa tas, kami dipersilakan lewat. Beberapa menit kemudian muncul di ruang tunggu Sekjen Liga Arab, Azzam Pasha, dan beberapa mahasiswa Indonesia.”
Pengakuan Mesir terhadap kemerdekaan Republik Indonesia merupakan pengakuan pertama dari dunia internasional. Selanjutnya, disusul pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Saudi Arabia, yang diserahkan langsung oleh Raja Abdul Aziz Al Su’ud dan diterima oleh HM Rasjidi di Istana Raja di Riyadh, 24 November 1947.





























