Ilustrasi: Tim Dompet Dhuafa Yogyakarta bersama Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membantu warga di wilayah Gunungkidul dan Bantul, Yogyakarta mendapatkan air bersih, Selasa dan Rabu, 22 dan 23 Agustus 2023. (Foto: DD Yogyakarta)

Oleh: Dr Destika Cahyana,SP MSc (Peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, BRIN)

ZNEWS.ID JAKARTA – Merawat air adalah merawat kehidupan. Air bersih layak konsumsi seiring waktu semakin langka.

Di tahun 80-an, penduduk dapat meminum air langsung dari mata air, sungai yang mengalir di bawahnya, atau sumur. Air bersih begitu berlimpah di zaman itu.

Pantas di masa lampau banyak penduduk desa menyediakan air minum gratis dalam kendi atau gentong di depan rumahnya bagi para pejalan kaki yang lewat. Sajian air minum di warung makan atau restoran pun selalu gratis.

Kisah 30-40 tahun silam itu bagai dongeng. Kini air menjadi semakin mahal. Penduduk di desa terpencil pun harus membeli air bersih.

Restoran dan warung makan yang menyediakan air minum gratis pun semakin sedikit. Entah nanti bagaimana 30-40 tahun ke depan penduduk Indonesia memperoleh air bersih layak konsumsi.

Air bersih layak konsumsi semakin terbatas karena air tanah dan air permukaan tercemar sampah, limbah, serta erosi lapisan atas permukaan tanah.

Begitu beratnya pencemaran di tanah, seorang ahli kualitas air mengatakan bahwa air hujan yang ditampung dan diendapkan jauh lebih baik kualitasnya untuk manusia.

Namun, sumber air bersih dari langit itu masuk melewati lapisan tanah yangiii tercemar atau mengalir membawa tanah yang juga tercemar sampah dan limbah ke selokan, sungai, dan danau.

Menjaga air hujan yang bersih agar tetap bersih saat menjadi air tanah, sungai, dan danau itu relevan karena Indonesia akan menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) di Bali 2024 pada Mei mendatang.

LEAVE A REPLY