Ilustrasi Menyesali Sedekah. (Foto: Ist)

Rupanya, amalan tersebut Allah ganjar surga yang ditampakkanNya pada Sya’ban ketika sakaratul maut. Maka, ia amat menyesali mengapa saat itu hanya memberikan pakaian lama, bukan yang baru.

Melihat betapa besarnya ganjaran kenikmatan yang ia peroleh hanya karena memberi pakaian usang, ia berpikir apalagi kalau ia memberi pakaian yang baru.

Terakhir, penyesalan Sya’ban mengenai sedekahnya kepada seorang pengemis. Penyesalan ini membuatnya berseru saat sakaratul maut. “Aduh, kenapa tidak semua.”

Saat itu, ia ingin memakan roti, tiba-tiba ada seorang pengemis meminta makanan padanya akibat sudah beberapa waktu pengemis tersebut tidak mengisi perutnya sama sekali. Sya’ban membagi 2 rotinya sama besarnya, untuk disantap olehnya dan oleh pengemis tersebut.

Begitu melihat ganjaran yang diperolehnya atas sedekahnya itu, ia menyesal, mengapa tidak memberikan semua roti tersebut pada sang pengemis. Itulah makna teriakkannya saat sakaratul maut tersebut.

Setelah mengetahui ganjaran luar biasa yang didapatnya, seseorang masih bisa menyesali sedekah yang dikeluarkannya, menyesal mengapa ketika hidup hanya mengeluarkan sedekah sedikit. Apalagi, seseorang yang meninggal tanpa pernah bersedekah.

Bukankah mayit saja jika diperbolehkan hidup kembali akan memilih untuk bersedekah?

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS Al-Munafiqun: 10)

Oleh sebab itu, bersedekahlah dengan apapun yang kita miliki saat ini. Jangan sampai kita menyesali karena menahan-nahan harta dan tidak menginfakkannya. (tabungwakaf.com)

LEAVE A REPLY