
Jika bukan karena taat dan cinta kepada Allah, mana mungkin Nabi Ismail dan ibunya, Siti Hajar, mau mengikhlaskan diri atas perintah penyembelihan itu.
Singkatnya, keluarga Nabi Ibrahim adalah ‘uswah’ yang betul-betul nyata dalam sejarah kehidupan manusia. Semuanya ‘kompak’ untuk menjalankan perintah yang ekstrim itu.
Begitulah keluarga yang cinta kepada Allah. Cinta dan ketaatan mereka kepada Allah adalah cinta total dan tidak nanggung!
Di lain kenyataan, ada saja keluarga yang tidak sama dalam hal ketakwaan dan kesalehan. Jika suami saleh, belum tentu istrinya juga salehah.
Jika suami dan istri sama salehnya, belum tentu anaknya juga saleh. Jika anaknya saleh, belum tentu ayah atau ibunya juga saleh.
Jika sudah begini, seorang ayah atau kepala keluarga harus berupaya lebih keras lagi agar seluruh anggotanya menjadi orang saleh.
Seorang ayah dalam keluarga adalah pusat percontohan. Jika seorang ayah ingin anaknya rajin ke masjid, maka ayahnya haruslah lebih dulu rajin ke masjid.





























